Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tekan Inflasi, BI NTB Optimalkan Strategi 4K

Galih Mega Putra S • Kamis, 7 Desember 2023 | 09:49 WIB
SUMBANG INFLASI: Salah satu pedagang cabai di Pasar Kebon Roek, Mataram. Cabai menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar di NTB.(DOK/LOMBOK POST)
SUMBANG INFLASI: Salah satu pedagang cabai di Pasar Kebon Roek, Mataram. Cabai menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar di NTB.(DOK/LOMBOK POST)

LombokPost-NTB menjadi salah satu dari 10 provinsi di Indonesia dengan inflasi terendah. Meski begitu, sejumlah komoditas pangan penyumbang inflasi perlu mendapatkan perhatian dan pengendalian yang serius.

Salah satunya cabai rawit. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB awal bulan ini merilis inflasi NTB paling besar disumbang komoditas tersebut. Komoditas cabai rawit ini masuk dalam kelompok pengeluaran berupa makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang inflasi sebesar 0,72 persen.

Terkait inflasi ini, Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Winda Putri Listya mengatakan, strategi 4K terus dioptimalkan untuk mengendalikan inflasi di NTB. Strategi 4K tersebut yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. ”Bank Indonesia bersama TPID NTB senantiasa bersinergi dalam berbagai program pengendalian inflasi,” ujarnya.

Sinergi yang dimaksud meliputi koordinasi intensif dalam High Level Meeting dan rapat koordinasi (Rakor). Baik itu Rakor di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Berbagai upaya dilakukan untuk pengendalian inflasi di daerah. Di antaranya, kegiatan operasi pasar, gerakan pangan murah (GPM) dan sinergi lainnya. Di samping itu, juga dilakukan sinergi dalam Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). ”Termasuk perluasan kerja sama antardaerah dan gerakan tanam cabai,” sambungnya.

”Keseluruhan program ini dilaksanakan dalam kerangka strategi 4K,” imbuhnya.

Lebih lanjut, laju inflasi pada 2023 diperkirakan berada dalam target sasaran 3±1 persen. Laju ini akan lebih terkendali pada 2024 dengan target sasaran 2,5±1 persen. Meski demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu diwaspadai. ”Gejolak geopolitik global masih berpotensi menimbulkan gangguan dari sisi supply dan mendorong tekanan inflasi,” kata Winda.

Dengan berbagai dinamika tersebut, Bank Indonesia akan memperkuat arah kebijakan ke depan. Salah satunya, respons bauran kebijakan moneter serta koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah. Yakni dalam pengendalian inflasi di NTB, akan terus dilanjutkan dan diperkuat. ”Hal ini dilakukan melalui optimalisasi anggaran belanja Pemda, serta sinergi dan kolaborasi melalui GNPIP,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala BPS NTB Wahyudin menerangkan, selama November 2023 penyumbang inflasi disumbang cabai rawit, cabai merah, bawang merah, air kemasan, dan sawi hijau. ”Ini kita ambil lima komoditas penyumbang terbesar,” ujarnya.

Dijelaskannya, jumlah inflasi gabungan Kota Bima dan Kota Mataram berdasarkan kalender tahunan (yoy) pada November 2023 2,92 persen. Kota Mataram 2,96 persen dan Kota Bima 2.77 persen.

Inflasi gabungan dua kota ini lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 2,86 persen. Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,28 pada November 2022 menjadi 115,56 pada November 2023.

Kata Wahyudin, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga. Ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada sejumlah kelompok pengeluaran sebesar 0,34 persen. Dari 11 kelompok pengeluaran terdapat enam kelompok yang menyumbang inflasi.

Di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,72 persen. Dalam kelompok ini, paling tinggi disumbang komoditas cabai rawit, cabai merah, bawang merah, air kemasan, dan sawi hijau. ”Beras tidak lagi penyumbang inflasi terbesar, malahan cabai, apakah karena musim hujan sudah turun, cabai biasanya suka cepat busuk,” pungkasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#BPS #bi ntb #Inflasi