Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pasca Pandemi, Penjualan Songket Sukarara Masih Stagnan

Galih Mega Putra S • Sabtu, 30 Desember 2023 | 06:30 WIB
LANDAI: Para wanita yang bekerja di salah satu kerajinan tenun Songket di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. (HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)
LANDAI: Para wanita yang bekerja di salah satu kerajinan tenun Songket di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. (HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Penjualan songket Sukarara belum ada peningkatan signifikan pasca Pandemi Covid-19, beberapa waktu lalu. Bahkan, ketika high season musim liburan kali ini, jumlah pembeli sama dengan hari-hari biasa.

”Beda jauh dengan sebelum ada Covid-19,” kata Jumarim, salah satu pekerja di industri tenun Songket Sukarara.

Jumarim menerangkan, pada tahun 2017-2018 silam, usaha Tenun Songket yang ada di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah ramai pembeli ketika high season. ”Kalau Bulan Desember, penjualan meningkat drastis. Tapi sekarang ini biasa saja,” jelasnya.

Dia mengaku, saat ini pendapatan dari penjualan songket rata-rata Rp 15 juta per bulan. Kadang kurang.

”Tidak tentu, tergantung tamu. Tidak setiap hari ada tamu,” kata pria yang juga berprofesi sebagai guide itu.

Dia tidak mengetahui penyebab tidak adanya peningkatan penjualan pasca pandemi. Sementara di satu sisi, pihaknya tetap menggencarkan promosi.

”Kerja sama dengan agen-agen travel tetap. Artinya, polanya sama. Tamu-tamu yang datang ke Lombok dibawa singgah di sini,” jelasnya.

Harga Songket Sukarara masih cukup tinggi. Untuk penjualan kepada konsumen lokal, dihargai Rp 2 juta satu lembar Songket. Sedangkan bagi pembeli dari mancanegara, harganya dua kali lebih.

”Kalau bule Rp 5 jutaan, katanya.

Menurut Jumarim, harga tersebut sejatinya tidak terlalu mahal. Sebab, pangsa pasar tenun Songket Sukarara masyarakat menengah ke atas. Kualitasnya juga tidak diragukan.

”Karena prosesnya juga lama, sampai sebulan lebih. Makanya agak mahal,” imbuhnya.

Bahan-bahan yang digunakan bukan benang biasa. Tenun ini dirajut dari katun, semi sutra, dan ada juga dari sutra. Jika lebih banyak benang biasa, harganya masih di angka ratusan ribu rupiah. ”Tergantung kualitas benang, bahan dan motif. Ini sangat menentukan harga,” tambah Jumarim.

Pangsa pasar Songket Sukarara didominasi tamu-tamu asing. Seperti wisatawan dari Spanyol, Italia, Australia, dan negara lainnya. ”Kita berharap, penjualan kembali meningkat seperti sebelum Covid-19,” harapnya.

Yanti, salah satu pekerja tenun Songket juga mengaku, saat ini penjualan jauh menurun. Akan tetapi dia bersyukur karena kondisinya tidak seperti ketika pandemi beberapa tahun lalu. ”Kalau dulu sangat terpuruk, dan saat ini semuanya mengalami kondisi sama,” katanya. (bib/r9)

Editor : Redaksi Lombok Post
#sukarara #tenun #songket