Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peluang Bisnis Travel Model Baru, Lombok Heritage Tawarkan Tur Wisata Warisan Sejarah

Galih Mega Putra S • Rabu, 10 Januari 2024 | 10:25 WIB
WISATA SEJARAH: Salah satu spot yang masuk dalam list kunjungan tur wisata warisan sejarah yang ditawarkan Lombok Heritage.(FERIAL/LOMBOK POST)
WISATA SEJARAH: Salah satu spot yang masuk dalam list kunjungan tur wisata warisan sejarah yang ditawarkan Lombok Heritage.(FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Pariwisata warisan sejarah menjadi salah satu pilihan liburan yang cukup digandrungi saat ini. Hal tersebut coba dikembangkan para pengusaha travel pariwisata, bersama pelaku pariwisata dan masyarakat untuk disajikan pada wisatawan. Baik itu lokal, domestik, hingga mancanegara.

”Ini bisa menjadi destinasi wisata baru di Lombok, khususnya Kota Mataram,” ujar Ketua Panitia Lombok Heritage Tourism Fendy Loekman pada Lombok Post.

Dikatakannya, wisata warisan sejarah ini menyajikan rute dari Pelabuhan Lama-Kampung Melayu-Simpang Lima di Kota Tua Ampenan. Dari rute tersebut, ada sekitar 16 spot yang akan disinggahi wisatawan nantinya.

Di antaranya, Pelabuhan Ampenan, N I Handelsbank (Bank Belanda), Moelia Bioscoop, Hoo Kie Rijstpellerij (Godang Hookie), N V Ebalom (pembangkit listrik), Kampung Melayu, Gereja Lama, Ponpes Darul Ulum, Hotel Tiga Mas (Saleh Sungkar), Sekolah China, Jembatan Lama dan Standplaats, Chung Hwa Theatre dan Pegadaian, Simpang Lima, Jejak Alfred Russel Wallace, dan Kelenteng Po Hwa Kong. ”Mereka yang berminat cukup bayar Rp 75 ribu, itu sudah termasuk makan siang,” sambungnya.

”Ini terbilang cukup murah dibandingkan tur wisata di Kota Tua Jakarta, sekitar Rp 200 ribu per orang,” tambahnya.

Sebelum merencanakan wisata warisan sejarah ini, tim Lombok Heritage sudah melakukan pemetaan situs-situs yang ada di Kota Tua Ampenan. Tidak hanya di sana, bahkan bagian Selatan Kali Jangkuk pun juga penuh dengan titik bersejarah. Baik itu zaman kerajaan maupun kolonial Belanda. ”Kita juga mapping ke Cakra, termasuk Mayura dan sekitarnya,” katanya.

Dikatakan Fendy, situs bersejarah di Kota Mataram saat ini sudah banyak yang menghilang, namun sejarahnya masih tersimpan. Pihaknya memiliki peta-peta lama dari zaman Belanda yang digunakan sebagai acuan perjalanan wisata warisan sejarah itu. ”Kegiatan yang tanggal 14 Januari itu merupakan percobaan pertama secara resmi kita undang pihak-pihak yang mungkin tertarik dengan sejarah yang ada di Kota Mataram maupun Pulau Lombok,” jelasnya.

Dari sisi bisnis, wisata warisan budaya ini cukup menjanjikan. Sebab ini menjadi suguhan destinasi baru dalam berwisata. Di samping itu, dari sisi ekonomi kegiatan ini secara tidak langsung membangkitkan usaha masyarakat yang ada di lingkungan sekitar situs sejarah. ”Kami tidak menyuruh mereka harus buat ini dan itu, karena di Ampenan itu sudah komplit, yang bakar ikan pinggir pantai, jual gorengan dan lainnya banyak dijual,” terangnya.

”Kami arahkan mereka (wisatawan, Red) untuk belanja ke masyarakat, bukan tempat yang sudah terkenal,” imbuhnya.

Pola ini dilakukan agar masyarakat juga ikut memperoleh pendapatan dari program pariwisata tersebut. Selain itu, para pemuda di seputar Kota Tua Ampenan pun ikut dilibatkan sebagai pemandu wisata. ”Kita hanya mengawali dan mencari titik-titiknya, ke depannya kita didik remaja-remaja ini untuk menjadi pemandu, tiap ada masalah boleh konsul ke kita,” bebernya.

Berbicara soal persiapan, Fendy mengaku sudah sangat matang. Termasuk komunikasi dengan warga di tiap titik yang akan dikunjungi. Bahkan sosialisasi terhadap pemerintah terkait pun juga sudah dilakukan. ”Mereka sangat mendukung, bahkan akan membuatkan plang tanda di setiap rumah untuk tempat-tempat yang ada nilai historisnya,” ujarnya.

Saat ini, sudah ada puluhan orang yang mendaftarkan diri dalam tur warisan sejarah itu. Rencananya, pihaknya akan membatasi nantinya sebanyak 10 orang per grup. Tujuannya agar dalam tur tersebut tidak terjadi penumpukan lantaran akan keluar masuk perkampungan nantinya. ”Kita akan ajak keliling jalan kaki, ada rutenya dan tiap spot tidak jauh,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Travel #wisata #liburan