LombokPost-Lahan kering seluas tiga hektare dimanfaatkan Artadi, petani Desa Rempek untuk budi daya semangka untuk pembenihan. Menerapkan pola irigasi tetes, petani semangka ini bisa panen hingga empat kali dalam setahun.
Penjualan biji hasil panennya diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Artadi mengatakan, potensi lahan kering secara keseluruhan di Rempek sekitar 270 hektare.
Ratusan hektare lahan kering ini dimanfaatkan petani dengan menanam sejumlah komoditas pertanian. Seperti jagung, kacang dan singkong. ”Potensi yang masih bisa dikembangkan di lahan kering ini karena ada titik-titik memiliki sumur bor yang sudah dibangun pemerintah,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai penyuluh pertanian lapangan (PPL) ini.
Keberadaan sumur bor inilah yang dimanfaatkan petani semangka agar bisa menanam lebih dari sekali. Polanya, menggunakan sistem irigasi tetes. Tanpa pola ini, biasanya tanam hanya dilakukan sekali setahun. ”Sekarang kita bisa menaikkan grade lahan hingga tanam empat kali setahun. Khusus di lahan kering Lempenge itu ada empat sumur bor yang beroperasi. Beberapa petani memanfaatkan itu untuk menanam cabai, bawang merah, jagung, dan kacang.
Artadi mengatakan, dirinya bersama beberapa petani lahan kering lainnya sekarang berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan PUPR. Sehingga potensi yang ada saat ini bisa terus dikembangkan.
Semangka yang ditanamnya ini khusus pengembangan untuk pembenihan. Hal itu dinilainya sangat menggiurkan lantaran bisa ditanam hingga empat kali dalam setahun. ”Pengembangannya menggunakan teknologi drip. Di dalamnya kita tinggal buat bak penampungan air, jadi ini difungsikan sebagai terminal sementara. Agar air itu bisa ditransfusikan ke lahan-lahan,” jelasnya.
Lahan kering tersebut dibuat seperti petakan sawah. Hal itu untuk mempermudah pengairan. Proses pengairan satu petakan sawah dilakukan selama satu jam. Jika menggunakan irigasi tetes, pengairan satu hektare dilakukan selama dua jam karena ada pompa alkon yang menyedot airnya.
Penanaman semangka di lahan kering ini dilakukan petani bermitra dengan perusahaan produksi benih. Harga per kilogram biji semangka yang dipanen sebesar Rp 2.150.000. Dalam tiga hektare semangka yang ditanam itu, Artadi bisa menghasilkan puluhan kilogram biji semangka. ”Sesuai kontrak, penanaman September 2023-Maret 2024 itu harganya Rp 2.150.000 per kilogram,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida