LombokPost-Mengembangkan produk pertanian berbasis organik memiliki banyak keuntungan. Salah satunya, memangkas biaya operasional lantaran petani tidak perlu lagi membeli pupuk kimia.
Hal yang coba dikembangkan PPSM Thohir Yasin di Lendang Nangka, Lombok Timur. ”Bisa memangkas operasional hingga 50 persen,” ujar Kepala Bidang Ekonomi PPSM Thohir Yasin Lendang Syahrullah.
Dijelaskannya, PPSM Thohir Yasin awalnya mengembangkan padi organik di lahan seluas 25 are. Namun kini, pengembangannya sudah meluas hingga setengah haktare atau 50 are.
Komitmen PPSM Thohir Yasin mengembangkan produk pertanian berbasis organik terus menguat, Hingga saat ini, tercatat ada banyak produk yang telah dihasilkan. Di antaranya peternakan, perikanan, perkebunan.
Di sektor pertanian, PPSM Thohir Yasin melakukan budi daya padi organik. Permintaan pasar akan produk organik secara nasional maupun internasional cukup besar. Ini memberikan rasa optimis yang kuat untuk terus melanjutkan budi daya komoditas tersebut.
Dalam mengembangkan padi organik, Syahrullah mengatakan pemupukannya pun organik. PPSM Thohir Yasin juga mengembangkan sendiri pupuk organik dari tinja. ”
Setiap bulan kami harus mengeluarkan biaya Rp 4 juta untuk penyedotan,” sambungnya.
Untuk memangkas biaya ini, kemudian dimanfaatkan teknologi pengubahan tinja menjadi pupuk organik. Caranya, kotoran dari safetytank pertama dipindahkan ke penampungan kedua, kemudian dicampur MH11.
Setelah terurai selama lima atau tujuh hari, barulah dialirkan ke sawah. Hasil penguraian tersebut menjadi pupuk organik dalam bentuk cair. Menggunakan teknologi ini, Syahrullah mengaku pihaknya bisa melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
”Itu bisa sampai empat ton panennya, jadi kita benar-benar tidak pakai bahan kimia, organik padinya,” bebernya.
Kelebihan beras organik, kata dia, nasinya bisa tahan hingga empat hari. Selain itu, akar tanaman padi juga lebih kuat dan bulir padinya lebih banyak. Jika biasanya satu tangkai padi non organik bulir padinya terisi setengah, maka padi organik ini seluruh bulirnya terisi. ”Ilmu ini berawal dari masalah pesantren, itu yang membuat kita terus berpikir dan terus berinovasi. Seperti sampah yang banyak, tapi jika diolah dengan bagus itu bisa jadi suatu keuntungan buat kita,” jelasnya.
”Begitu juga dengan persoalan kotoran ini,” imbuhnya.
Dibeberkan Syahrullah, dirinya pernah mendapatkan program biogas pada 2011 lalu sebanyak 300 unit. Dari sana dirinya belajar bahwa sisa dari gas ini ternyata bisa jadi pupuk. Di PPSM Thohir Yasin sendiri juga memasang biogas yang dialirkan ke dapur asrama. ”Sama seperti di safetytank ini gasnya banyak, tapi setelah kita permentasi selama 3-4 hari gasnya hilang, langsung bisa jadi pupuk,” terangnya.
Setelah menerapkan teknologi ini, pihaknya bisa menekan biaya pengeluaran hingga 50 persen. Apalagi, PPSM Thohir Yasin juga memiliki kandang ayam yang kotorannya juga diolah menjadi pupuk kompos. ”Dulu ada kandang sapi juga kita olah dia jadi pupuk organik, kita jual Rp 25 ribu per kilogram,” katanya.
Ditambahkan Syahrullah, pihaknya berencana memperluas lahan tanam organik ini. Salah satunya melalui kemitraan dengan masyarakat sekitar. Polanya, mereka diberikan bibit dan pupuk, kemudian hasil panen dijual ke PPSM Thohir Yasin dengan sistem bagi hasil. ”Pola pengembangan nantinya kita atur, tidak boleh nanam cabai semua, tapi ada yang tanam padi, tomat, dan komoditas lainnya, sehingga harga tidak anjlok,” jelas Syahrullah.
”Pesantren jadi sentral pemasarannya, masyarakat tidak perlu capek jual ke luar, nanti kami yang ambil,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida