Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membangun NTB melalui Industri Kultural

R
Penulis: Redaksi❯
Oryza Pneumatica Inderasari: Kandidat Doktor Ilmu Sosial, FISIP, Universitas Airlangga
Oryza Pneumatica Inderasari: Kandidat Doktor Ilmu Sosial, FISIP, Universitas Airlangga

Advertisement

LombokPost - Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal sebagai daerah dengan kelimpahan sumber daya alam, keragaman destinasi wisata, serta kekayaan budaya. NTB menjadi ruang pertemuan kekayaan budaya yang beragam, mulai dari tradisi tenun Sasak di Pulau Lombok hingga ragam entitas budaya Samawa dan Mbojo di Pulau Sumbawa. Tulisan ini mengajak pembaca mengambil jeda untuk merenungkan pertanyaan apakah kebudayaan telah benar-benar ditempatkan sebagai kekuatan pembangunan daerah, di antara keberhasilan pembangunan yang telah dan hendak dicapai?

Relevansi pertanyaan ini terletak pada refleksi terhadap tolok ukur kesuksesan yang sering kali digunakan sebagai ukuran ekonomi material, seperti investasi, infrastruktur, pertumbuhan usaha, atau jumlah kunjungan wisatawan. Sementara itu, kebudayaan kerap ditempatkan sebagai sektor pendukung yang berfungsi untuk memperkuat citra daerah atau melengkapi agenda pariwisata. Padahal, kebudayaan sesungguhnya memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar ornamen pembangunan.

Arah kebijakan nasional telah memberikan fondasi yang jelas melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif. Di tingkat daerah, komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 16 Tahun 2021 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kehadiran regulasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan telah diakui sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

Namun tantangan sesungguhnya bukan lagi terletak pada ketersediaan regulasi. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan yang hidup dalam kebijakan ekonomi, pendidikan, pariwisata, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan wilayah. Dengan kata lain, bagaimana kebudayaan tidak hanya dilestarikan, tetapi juga mampu menciptakan nilai sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Hal ini menjadikan konsep industri kultural penting untuk dibahas. Industri kultural bukan sekadar industri yang menghasilkan produk budaya. Industri kultural adalah ekosistem yang mempertemukan proses produksi budaya, representasi identitas, aktivitas ekonomi kreatif, media, pendidikan, dan pariwisata dalam satu jaringan yang saling terhubung. Budaya tidak lagi dipandang sebagai objek pasif, melainkan sebagai sumber daya strategis yang terus diproduksi, dimaknai, dan dimanfaatkan oleh berbagai aktor sosial.

Advertisement

Pengalaman tenun Sasak di Lombok Timur memberikan gambaran menarik tentang peran industri kultural dalam kehidupan masyarakat. Penelitian dilakukan dalam rangka penyelesaian disertasi doktoral di Universitas Airlangga, melibatkan 46 informan, terdiri atas penenun, pelaku usaha, komunitas budaya, media, birokrasi, dan pelaku pariwisata. Penelitian memberikan pemahaman bahwa tenun tidak hanya berfungsi sebagai budaya yang diwariskan lintas generasi, melainkan tenun juga menjadi sumber penghidupan, identitas daerah, komoditas ekonomi kreatif, daya tarik wisata, hingga bagian dari strategi pembangunan daerah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi tidak berjalan secara terpisah. Keduanya saling berhubungan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat. Aktivitas menenun, misalnya, tidak hanya menghasilkan kain, tetapi juga menjaga pengetahuan lokal, memperkuat jaringan sosial, menciptakan pendapatan rumah tangga, dan membangun citra daerah. Dalam konteks ini, budaya tidak sekadar dilestarikan, tetapi juga berfungsi sebagai kekuatan pembangunan.

Perspektif sosiologi industri menunjukkan bahwa industri tidak selalu identik dengan pabrik, mesin, dan kawasan manufaktur. Industri juga dapat tumbuh melalui pengetahuan lokal, keterampilan budaya, dan kerja sosial yang berlangsung di tengah masyarakat. Bahkan dalam banyak kasus, nilai tambah yang dihasilkan industri budaya justru berasal dari keunikan identitas lokal yang tidak dapat diproduksi oleh teknologi modern sekalipun.

Karena itu, pembangunan NTB perlu memperkuat investasi sosial dan budaya sebagai fondasi pembangunan jangka panjang, memperkuat pembangunan fisik dan investasi ekonomi. Budaya memiliki kemampuan untuk menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan identitas daerah, mempertemukan modernisasi dengan tradisi, serta menciptakan pembangunan yang lebih inklusif karena melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

NTB memiliki peluang emas untuk membangun model pembangunan berbasis budaya lokal di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri pariwisata. Praktik budaya, seperti menenun dan seni pertunjukan, tradisi lisan, sistem kuliner, atau arsitektur tradisional dapat diintegrasikan ke dalam industri budaya untuk menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas lokal.

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemprov NTB Jadikan Teluk Saleh Sebagai Kawasan Konservasi, Pembangunan Pariwisata Berbasis Ekosistem

Pemprov NTB Jadikan Teluk Saleh Sebagai Kawasan Konservasi, Pembangunan Pariwisata Berbasis Ekosistem

Lestarian Lingkungan dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Kebijakan gubernur NTB ini menegaskan bahwa seluruh rencana pengembangan.

Gubernur NTB di Forum Dunia: Ekonomi Kreatif Harus Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Gubernur NTB di Forum Dunia: Ekonomi Kreatif Harus Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dorong ekonomi kreatif sebagai penggerak pertumbuhan, peluang usaha, dan kesejahteraan masyarakat.

Gubernur NTB Lalu Iqbal Bawa Strategi Ekonomi Kreatif NTB ke Forum Dunia WCCE 2026

Gubernur NTB Lalu Iqbal Bawa Strategi Ekonomi Kreatif NTB ke Forum Dunia WCCE 2026

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal paparkan strategi ekonomi kreatif untuk mendorong pertumbuhan inklusif dan mengurangi kemiskinan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer