Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lamonda Coffee Angkat Cita Rasa Kopi Khas Bima , Modal Rp 300 Ribu, Kini Omzet Rp 15 Juta Per Bulan

Galih Mega Putra S • Rabu, 24 Januari 2024 | 16:10 WIB
SAJIAN KOPI: Owner Lamonda Coffee Al Khairunnas Ramadan saat membuat sajian kopi khas Bima di kedai miliknya di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, belum lama ini. (KHAIRUNNAS FOR LOMBOK POST)
SAJIAN KOPI: Owner Lamonda Coffee Al Khairunnas Ramadan saat membuat sajian kopi khas Bima di kedai miliknya di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, belum lama ini. (KHAIRUNNAS FOR LOMBOK POST)

LombokPost-Semua bermula dari bekerja di bagian pengemasan sebuah UKM di Kota Mataram pada 2016 lalu.

Muncul ide dari Al Khairunnas Ramadan, pria asal Desa Rada, Kabupaten Bima membuka usaha jual beli kopi khas daerahnya. Namun dalam bentuk kemasan yang lebih modern.

Ini menjadi perjalanan awal hadirnya usaha Lamonda Coffee. Dituturkan pria kelahiran 1994 ini, setelah lulus 2015 lalu, dia sempat kesusahan mencari pekerjaan. Dirinya sudah memasukkan lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Namun belum kunjung membuahkan hasil.

Hingga akhirnya, dirinya diterima bekerja di sebuah UKM di Kota Mataram. Dirinya bekerja di sana selama lima bulan di bagian pengemasan produk. Melihat proses di UKM tersebut, dirinya pun tertarik mengembangkan usaha serupa.

Apalagi di daerah kelahirannya terdapat banyak potensi kopi yang menarik. Seperti kopi Tambora, hingga kopi Sambori di Wawo. Komoditas kopi-kopi ini dulunya belum banyak tereksplor. Selain itu, belum ada yang menjualnya dalam kemasan modern.

”Saya langsung resign kembali pulang ke Bima,” ujarnya.

Tiba di kampung halamannya, Khairunnas segera melakukan survei ke supermarket dan swalayan yang ada. Ternyata memang belum ada dijual kopi-kopi khas daerahnya di sana. Kalau pun ada, saat itu kemasannya masih menggunakan plastik biasa tanpa merek atau brand.

Dirinya juga belajar banyak mengenai kopi. Sebab dirinya tidak ingin menjalankan usaha, namun tidak mengenal produknya sendiri. Berbicara soal kopi, paling sensitif terkait beberapa hal. Di antaranya suhu, tidak boleh panas, juga tidak boleh dingin.

Kemudian, kopi ini tidak boleh terpapar langsung sinar matahari. Sedangkan penggunaan plastik biasa justru akan membuat kopi mudah terdampak nantinya. Pada penyimpanan kopi, juga tidak boleh ada udara atau harus kedap udara.

”Dari pengalaman kerja saya sebelumnya muncul ide, akhirnya saya modernisasi packaging (kemasan, Red) kopi itu, dan sekarang sudah banyak yang mengikuti itu,” jelasnya.

”Tapi memang dari situ kita mengangkat derajat kopi, kita buatkan standarnya,” imbuh Khairunnas.

Lebih lanjut dikatakannya, pemilihan nama Lamonda Coffee ini bertujuan agar mudah diingat saja. Kebetulan juga, gang rumahnya juga memiliki nama yang sama.

”Saya pakai itu, lebih simpel penyebutannya,” ucapnya.

Awal merintis bisnis ini, Khairunnas hanya bermodalkan Rp 300 ribu. Modal tersebut dibelikan beberapa jenis kopi Bima, masing-masing satu kilogram. Ada jenis House Blend, Arabica Tambora dan Robusta. Dirinya hanya memproduksi 20-50 pcs saja yang dimasukkan dalam dua otlet.

”Di Bolly dan satu swalayan lainnya,” akunya.

Menjalani usaha ini diakuinya tidak mudah. Dirinya harus beriktiar dengan penuh kesabaran. Akhirnya, hal itu membuahkan hasil dan bisa bertahan hingga saat ini. Bahkan mengenai kopi di Bima, Lamonda Coffee masih menjadi pilihan utama.

”Dulu juga bisa masuk sampai Sasaku, Legong, dan outlet oleh-oleh, karena Covid-19 jadi mandek di sana dan sekarang fokus di Bima saja,” terangnya.

Selain berjualan kopi khas Bima dalam kemasan, alumni Universitas Muhammadiyah Mataram ini juga membuka kedai kopi dengan nama yang sama. Omset per harinya diakui Khairunnas sebesar Rp 500 ribu, untuk penjualan kopi kemasan dan kopi di kedai.

”Jadi sebulan itu saya bisa dapat hingga Rp 15 juta, tinggal di kalikan saja 1 tahun itu berapa,” bebernya.

”Memang modalnya Rp 300 ribu, tapi sampai ke titik sekarang ini tidaklah mudah, sangat susah dan sulit sekali,” imbuhnya.

Usaha Lamonda Coffee ini dikelolanya sendiri. Dirinya sudah mengetahui di mana marketnya, bahkan memiliki pelanggan setia. Baik itu yang membeli kopi ukuran kiloan, maupun ke kedainya. ”Kita punya mesin rosting kopi, dan kopi yang menjadi andalan kami yang banyak di pesan di kedai adalah es kopi susu khas Lamonda,” jelasnya.

”Kalau yang kemasannya, paling banyak peminatnya Robusta Tambora,” tandasnya. (fer/r9)

 

Editor : Kimda Farida
#UMKM #kopi #cafe