Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cukli Lombok Mencoba Bangkit, Terbantu Kehadiran Wisatawan Kapal Pesiar

Galih Mega Putra S • Rabu, 20 Maret 2024 | 14:40 WIB
(FERIAL/LOMBOK POST) LIHAT PRODUK: Salah satu pengunjung tengah melihat produk-produk yang dijual di LYA Art Souvenir Shop di lingkungan Pasar Seni Sayang-Sayang Kota Mataram
(FERIAL/LOMBOK POST) LIHAT PRODUK: Salah satu pengunjung tengah melihat produk-produk yang dijual di LYA Art Souvenir Shop di lingkungan Pasar Seni Sayang-Sayang Kota Mataram

LombokPost- Husnayadi memulai usaha aneka kerajinan di Pasar Seni Sayang-Sayang, Kota Mataram sejak 2008 lalu.

Dirinya sudah mengalami pasang surut usaha hingga saat ini.

Apalagi ketika gempa bumi terjadi di 2018 lalu dan disambung dengan pandemi Covid-19 di 2020.

Alhamdulillah, sudah mulai bangkit pasarnya, terutama di akhir 2023 kami kedatangan wisatawan kapal pesiar,” ujar owner LYA Art Souvenir Shop ini.

Dikatakannya, toko miliknya menjual beraneka ragam kerajinan, paling utama cukli.

Beberapa di antaranya seperti plakat, suvenir, perlengkapan rumah tangga, dan lainnya.

”Salah satu yang kami pertahankan di sini adalah cukli, karena 70 persen perajin cukli ini pindah profesi pascagempa,” sambungnya.

Dari segi harga diakui Husnayadi bervariasi.

Kerajinan dijual mulai dari Rp 5.000 untuk pernak pernik aksesoris seperti gelang.

Kemudian paling tinggi itu hingga Rp 20 juta untuk produk kerajinan berupa kursi.

”Paling diminati sampai sekarang itu suvenir dan plakat,” katanya.

Dibeberkannya, sebelum gempa peminat kerajinan sangat banyak, terutama cukli.

Namun ketika gempa terjadi, pasar seni diakuinya mengalami mati suri.

Pihaknya sebagai penyuplai ke toko oleh-oleh secara tidak langsung juga terdampak.

Meski mengalami masa sulit yang cukup lama, namun dirinya tidak berhenti berusaha.

Pemasaran melalui online terus digencarkan.

Tak hanya itu, dirinya bersama pemilik art shop lainnya juga sering mengikuti pelatihan untuk menambah wawasan.

Terutama perihal membangun jaringan pemasaran produk.

”Banyak yang mengklaim kami mati suri, tetapi buktinya kami masih eksis di sini sampai sekarang,” terangnya.

Pada 2022 lalu, untuk menghidupkan kembali pasar seni khususnya cukli, pihaknya berusaha memanggil dan mengumpulkan kembali para perajin tersebut.

Namun sayangnya hanya sebagian yang mau kembali lantaran sudah menekuni profesi baru mereka.

”Perajin yang mau balik ini yang kami pertahankan,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, kini kondisi pasar kerajinan sudah mulai pulih secara perlahan.

Hanya saja, pihaknya berharap promosi keberadaan pasar seni ini terus digencarkan.

Saat ini, sudah ada peningkatan sekitar 10 persen pendapatan dibandingkan saat pandemi lalu.

”Peningkatannya sekitar 10 persenan, ini sudah cukup lumayan,” akunya.

Selain promosi, dirinya berharap ada juga pembenahan fasilitas yang dilakukan pihak terkait.

Salah satunya adalah plang nama pasar seni agar diubah dengan desain yang lebih baik.

Sehingga bisa dengan mudah ditemukan masyarakat maupun wisatawan.

”Banyak yang mengira ini bukan pasar seni, semoga besok dari dinas pariwisata bisa mengubah bagian depan ini sedikit, tinggal tulis besar-besar saja di depan itu kata pasar seninya,” tandas Husnayadi. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Cukli #NTB #pasar seni