LombokPost-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) membeberkan perkembangan stabilitas sistem keuangan NTB.
Mulai dari penyaluran kredit, penghimpunan DPK, hingga aliran uang kartal pada April 2024.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, akselerasi penyaluran kredit perbankan NTB berlanjut di tengah risiko yang tetap terjaga.
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah berlanjutnya peningkatan pertumbuhan kredit.
”Hal ini tercermin dari rasio NPL sebesar 1,24 persen, jauh di bawah ambang batas,” ujarnya.
Dijelaskannya, penyaluran kredit perbankan berdasarkan lokasi bank pada tw-I 2024 terpantau tumbuh sebesar 24,97 persen (yoy).
Persentase ini lebih tinggi dibandingkan tw-IV 2023 yang sebesar 15,70 persen (yoy).
Lebih tingginya pertumbuhan penyaluran kredit tersebut, terutama ditopang oleh akselerasi pertumbuhan dari penyaluran kredit modal kerja dan kredit konsumsi.
Secara sektoral, peningkatan pertumbuhan penyaluran kredit terutama ditopang oleh akselerasi pertumbuhan kredit pertambangan.
Kemudian kredit pertanian, dan kredit perdagangan. Sejalan dengan itu, kinerja penghimpunan DPK juga tercatat tumbuh 7,24 persen (yoy).
”Ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya,” sambungnya.
Dikatakannya, kredit modal kerja dan konsumsi menopang pertumbuhan kredit. Sejalan dengan itu, kredit UMKM juga terakselerasi dengan pangsa 31,41 persen.
Kinerja penyaluran kredit pada triwulan I 2024 tumbuh 24,97 persen (yoy).
Lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 15,70 persen (yoy).
Berdasarkan jenis penggunaan, lebih tingginya pertumbuhan penyaluran kredit tersebut terutama ditopang oleh akselerasi pertumbuhan dari penyaluran kredit modal kerja dan kredit konsumsi.
Sementara itu, kredit investasi terpantau tetap tumbuh tinggi meski sedikit melandai dari triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan positif kredit perdagangan turut tercermin dari penyaluran kredit rumah tangga. Khususnya KPR dan KKB yang masing-masing tumbuh 15,54 persen (yoy) dan 20,60 persen (yoy).
Sejalan dengan itu, kredit UMKM terpantau tumbuh positif 10,66 persen (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.
”Penghimpunan DPK (Dana Pihak Ketiga) tumbuh lebih tinggi pada tw-I 2024 dan menopang likuditas perbankan,” bebernya.
Pertumbuhan DPK perbankan di NTB pada triwulan I 2024 tercatat sebesar 7,24 persen (yoy). Persentase ini meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,62 persen (yoy).
Berdasarkan instrumennya, pertumbuhan yang lebih tinggi terutama didorong oleh pertumbuhan instrumen deposito dan tabungan yang meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Di sisi lain, giro terpantau masih terkontraksi meski tidak sedalam triwulan sebelumnya.
Berdasarkan golongan nasabah, peningkatan penghimpunan DPK terutama berasal dari pertumbuhan yang lebih tinggi dari DPK pemerintah dan DPK perseorangan.
Sementara itu, DPK swasta terpantau masih terkontraksi meski sudah tidak sedalam triwulan sebelumnya.
Mengenai aliran uang kartal April mengalami net-outflow. Hal ini sejalan berlangsungnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Aliran Kas pada triwulan II per 19 April 2024 mencatatkan net-outflow sebesar Rp 1,019 miliar.
”Hal ini sejalan dengan pola historikal pada periode HBKN Idulfitri yang mengindikasikan adanya peningkatan kebutuhan uang sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat,” terangnya.
Di sisi lain, penetrasi transaksi digital di Provinsi NTB terus berlanjut.
Transaksi RTGS dan SKNBI masing-masing tercatat kontraksi -17,49 persen dan -2,25 persen (yoy).
Hal ini membaik dari triwulan sebelumnya.
Sejalan dengan itu, transaksi APMK dan UE juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Ditopang oleh jumlah kartu maupun UE yang juga meningkat. Adapun QRIS telah mencatatkan total 451,170 pengguna. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida