LombokPost--Pembinaan porang di Kabupaten Lombok Utara (KLU) saat ini tersebar di 11 desa dengan mencapai 864 KK tergabung dalam Koperasi Berkah Gumi Lombok (BGL).
Kelompok usaha ini berada di dua kecamatan yaitu Bayan dan Gangga.
Dua tahun terakhir, bisnis porang sangat lesu karena harga sangat rendah.
Namun, penantian itu berbuah manis, tahun 2024 harga porang bangkit lagi dengan harga per kilogramnya mencapai Rp 9 ribu hingga Rp 11 ribu porang basah.
Sedangkan porang chip kering tembus Rp 50 ribu per kilogram.
Hanya di KLU, potensi porang dalam setahun bisa mencapai 980 ton dengan luas tanam 800 hektare.
"Khusus Lombok Utara sendiri tahun ini sudah menjual 70 truk di mana tiap truk itu ada 14 ton dalam bentuk porang basah," kata pendamping Koperasi BGL Puguh Dwi Friawan.
Menurutnya, kegigihan pendampingan dari Prof Suwardji yang tetap konsisten telah berhasil mendorong bangkitnya bisnis porang di KLU.
Dampaknya tahun 2024-2026 melalui dana desa binaan telah mendampingi dua kelompok di Desa Baturakit, Kecamatan Bayan untuk mengembangkan pangan unggulan berbasis porang.
"Porang yang banyak dilirik pasar itu berupa chip porang," terangnya.
Chip porang sendiri merupakan irisan umbi porang yang dikeringkan hingga kadar air mengurang sesuai yang diminta pasar.
Dalam menghasilkan chip porang ini ada dua cara yang bisa dilakukan, pengeringan menggunakan matahari atau menggunakan oven pengeringan.
"Kalau dari selisih harga antara pengeringan menggunakan matahari dan oven tidak jauh beda berkisar Rp 6 ribuan. Namun karena tingginya operasional untuk penggunaan oven, sehingga petani banyak menggunakan pengeringan matahari," jelas Puguh.
Tetapi pihaknya tidak menutup kemungkinan bisa memenuhi keinginan pasar bila ingin chip porang pengeringan menggunakan oven.
Asal harga yang ditawarkan pembeli sesuai dan masuk dengan operasionalnya penggunaan oven.
"Karena kalau menggunakan oven itu kapasitasnya 10 ton porang basah untuk sehari," tuturnya.
Ia pun menceritakan dalam setahun hanya bisa sekali masa panen porang basah.
Masa panen itu kira-kira Bulan Maret sampai dengan Agustus.
Dalam menghasilkan chip porang kering, tergantung redeman dimana paling bagus satu banding lima.
Artinya satu kilogram chip porang kering butuh lima ton porang basah. Terkait masa tanam porang sendiri tergantung lagi ke pembibitan.
"Kalau bibit katak bisa 2-3 musin dan kalau dari bibit umbi bisa 1-2 musim," jelasnya.
Peluang pasar untuk porang ini ada yang minta dalam bentuk basah. Tetapi tidak sedikit juga pembeli ingin porang chip kering yang dikirimkan.
"Kami tergantung permintaan pasarnya, kami siap porang basah maupun porang chip kering," imbuhnya.
Pemda KLU mendukung agroindustri ini berkembang dengan menyediakan mesin pemisah oksalat dan mesin beras analog dari porang.
Diharapkan petani bisa lebih fokus mengelola dalam bentuk setengah jadi ataupun jadi.
"Porang sudah berkembang saat ini tidak hanya KLU tapi Lotim, Loteng, Sumbawa, Dompu, dan Bima. Pemda provinsi harus tanggap kondisi ini," harapnya. (nur)