LombokPost-Masih muda, namun sudah mengembangkan berbagai motif unik untuk kain batiknya.
Salah satunya, motif pelecing kangkung yang merupakan salah satu ikon kuliner NTB.
Itulah yang dilakukan Harvia Hayati, gadis 29 tahun asal Gangga.
Dia lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta 2019 lalu di Jurusan Seni Kriya.
Sesuai bidangnya dia terdorong mendalami seni membatik.
Pia, sapannya memiliki banyak karya-karya menakjubkan. Kecintaanya pada membatik berawal dari hobinya yang suka berkreasi.
Apalagi di KLU, kata Pia belum memiliki seni batik.
Setiap karya yang dihasilkan, dipasarkan melalui usaha yang dirintisnya.
Namanya UMKM Sasakriyatif, sebelum itu bernama Tjejanting (2020).
Mendalami hobinya berkreasi, Pia memutuskan mengambil fokus tugas akhir untuk membuat batik dengan motif pelecing kangkung.
Motif ini menjadi representasi kekayaan kuliner Pulau Lombok. Apalgi KLU juga memiliki wisata kuliner unggulan berupa pelecing opak-opak.
”Dulu pas kuliah itu kalau suka ya buat saja. Tapi kemudian pas tugas akhir mulai mikir, apa yang bisa menjadi daya tarik orang, yang ikonik dan khas,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan studi di ISI Yogyakarta, Pia memutuskan kembali ke Pulau Lombok.
Dalam perjalanan pulang, sebuah inspirasi muncul ketika dirinya melihat awan dari jendela pesawat. Dirinya membuat desain motif batik bernama gulem runtak.
Inspirasi itu kemudian membawa Pia melahirkan motif kedua batiknya.
”Gulem yang berarti awan mendung, sedangkan runtak berarti jalan yang tak mulus,” jelasnya.
Di akhir 2019, dia mulai memasarkan karya batik motif pelecing kangkung dan gulem runtak.
Awalnya masih dari mulut ke mulut. Pesanan mulai berdatangan, namun belum membuat usaha yang serius.
Hingga pada 2020, Pia mulai membangun UMKM bernama Tjejanting.
Di sana Pia, mulai berkreasi dan menjual batik-batik karya emasnya.
Motif pelecing kangkung pun terus dikembangkan hingga kini menjadi delapan motif unggulan.
Motif pelecing kangkung menjadi yang sangat diminati, bahkan sampai dipesan menjadi beberapa seragam oleh kantor-kantor dinas di daerah.
”Motif pelecing kangkung itu, kenapa dia meliuk-liuk gambarnya, ya kalau sudah jadi pelecing, kangkung itu sudah disuwir-suwir, sudah tidak keliatan bentuk kangkungnya, itu saya jelaskan kalau ada yang bertanya,” terangnya.
Pia terus berupaya meng-upgrade diri. Dia bahkan ikut belajar dalam studi tour bersama Dekranasda KLU ke Yogyakarta pada 2020.
Di sana, dia belajar seni membatik dengan teknik eco-print.
Dia lantas memanfaatkan daun-daun di sekitar rumahnya menjadi karya-karya yang luar biasa.
Bahkan dijual melalui e-commerce dengan jumlah pesanan yang selalu membludak.
”Sampai keteteran kemarin, kita selalu sampai bilang stoknya habis di e-commerce,” tuturnya.
Produk batik eco-print yang dijual di e-commerce itu dijual dalam bentuk hijab.
Warna alami dan teknik eco-print yang digunakan, membuat jilbab batiknya langsung menyedot minat publik. Bahkan ada yang memesan produknya hingga berkoli-koli.
Selain batik eco-print, motif lain yang diciptakan Pia yakni dende Bayan, raden Bayan, dan serunai Rinjani.
Dirinya terinspirasi dari masjid kuno di Bayan.
”Meski agak horor kalau sudah dilempar ke publik, ada pro kontra, seperti motif yang tidak sesuai representasinya, ada yang protes warna yang tidak sama dengan tenun atau bentuk jong juga,” terangnya.
Meski demikian, gadis yang aktif mengisi kelas membatik di salah satu hotel Lombok Utara ini tetap semangat berkarya.
Dia menekankan, karya seni terutama batik memang tidak harus menyerupai bentuk sesempurna yang ingin direpresentasikannya.
”Ada istilisasi namanya, tidak harus sedetail objek yang ingin didirepresentasikan. Tidak persis sama,” tegas dia. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida