Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Diminati Wisatawan Asing, Brand Sunscreen Lokal Iwani Gunakan Bahan Ramah Lingkungan

nur cahaya • Rabu, 13 November 2024 | 15:45 WIB

  

RAMAH LINGKUNGAN: Produk sunscreen lokal Iwani yang berbahan dasar ramah lingkungan.
RAMAH LINGKUNGAN: Produk sunscreen lokal Iwani yang berbahan dasar ramah lingkungan.
 

LombokPost-Usaha skincare lokal tengah berkembang cukup pesat.

Di NTB, ada salah satu skincare lokal ramah lingkungan bernama Iwani.

Salah satu produk unggulannya adalah sunscreen yang masih sangat jarang ditemukan dari pengusaha skincare lokal NTB lainnya.

Brand Owner Iwani, Iwin Insani mengatakan, produk sunscreen miliknya tersebut ramah akan terumbu karang.

Berawal dari dirinya membaca berita tentang Hawai yang melarang penggunaan sunscreen berbahan aktif oxybenzone dan octinoxate.

”Zat tersebut membahayakan laut, terutama terumbu karang,” ujarnya, Selasa (12/11).

Iwin kemudian mempelajari jurnal yang berhubungan dengan sunscreen aman.

Terlebih rasa cintanya akan laut, mendorongnya semakin giat mencoba mengembangkan bahan-bahan alami yang bisa memberi perlindungan kulit namun ramah lingkungan.

”Apakah kita harus tunggu seperti Hawai dulu, rusak dulu baru ada aturannya atau pencegahan,” sambungnya.

Iwin kemudian melaksanakan riset dengan menggabungkan bahan-bahan alami.

Di antaranya, minyak kelapa, minyak zaitun, lilin lebah, mentega tengkawang Kalimantan, dan lainnya.

”Minyak kelapa berdiri sendiri saja sudah mengandung SPF 5, dicampur bahan alami lainnya,” katanya.

”Akhirnya lulus produk kita itu lulus nasional untuk mengetes SPF,” imbuhnya.

Dikatakannya, pihaknya tidak bisa sembarangan mencantumkan besaran SPF.

Sebab nantinya pihak BPOM akan mempertanyakan asal data penggunaan SPF tersebut.

Hal ini, kata Iwin menjadi alasan mengapa IKM kosmetik kecil tidak berani meluncurkan produk sunscreen.

”Karena tesnya yang mahal,” ujarnya.

Iwin membeberkan, tes untuk produk sunscreen tersebut membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah.

Dirinya tidak ragu untuk mengeluarkan biaya besar agar bisa menciptakan sunscreen aman yang ramah lingkungan.

”Saya riset ini (sunscreen) sampai enam bulan, sebenarnya sudah sejak 2018,” bebernya.

Perjalanan usaha sunscreen Iwani ini tidak semudah yang terlihat sekarang ini.

Ada beragam rintangan yang harus dihadapinya.

Awalnya, dirinya sempat menjual produk sunscreennya secara ilegal lantaran kesulitan mendapatkan izin.

”Saat itu, saya bisa jualan hingga ribuan pieces tiap bulan,” akunya.

Kemudian dirinya me-launching produknya pada 4 Agustus 2018 lalu.

Namun keesokan harinya, terjadi gempa bumi yang membuat semua sunscreen yang ditawarkan di Gili Tramena tidak terjual.

Dibandingkan produknya dibuang, Iwin memilih memberikannya secara gratis pada sisa penghuni pulau tersebut saat itu.

”Saya minta tidak dibalikkan, tapi dibagikan pada semua orang di sana, waktu itu ada 300 orang yang diberikan sunscreen karena semua wisatawan sudah balik,” terangnya.

Ke-300 orang tersebut kemudian sekaligus menjadi bagian dari  ujicoba produknya.

Ternyata hasilnya sangat positif lantaran tidak ada yang merasa kulitnya terbakar, panas, dan alergi.

Berkat itu, dirinya percaya diri untuk dijual di kapal dan perusahaan diving.

”Karena takut dikejar BPOM dan polisi, akhirnya kita maclon ke Jawa pada 2019, tapi di sana dimintai Rp 650 juta untuk produksinya, waktu itu saya tidak ada uang sebanyak itu,” jelasnya.

Akhirnya, dirinya berkonsultasi ke BPOM untuk mendapatkan solusi. Dirinya disarankan untuk membangun industri sendiri.

Kemudian dirinya menyewa sebuah ruko di Meninting sesuai arahan BPOM. ”Lantai satu kantor tempat produksi. Jadi setiap hari bawa bahan baku ke atas sorenya turun lagi ke bawah, bawa barang jadi,” tuturnya.

”Bahan bakunya dari KLU, Sumbawa, Sulawesi, Gerung, Kalimantan dan Bandung,” imbuhnya.

Setelah memiliki izin dan produknya teruji secara klinis, Iwani berkembang lebih baik.

Bahkan produknya telah diekspor ke berbagai negara dengan jumlah ribuan bungkus. Nominal ekspornya mencapai ratusan juta rupiah.

”Dalam sehari bisa produksi 1.000-4.000 pieces sunscreen dengan berbagai ukuran. Ukuran 15-100 gram dengan kisaran harga Rp 49.500-225.000,” jelasnya.

Produk sunscreen ini diakui Iwin dibuat dengan target pasar di destinasi wisata. Produknya ini bahkan sangat diminati kalangan wisatawan asing.

Produknya ini bakal dihadirkan dalam kegiatan ite Begawe Fest pada Desember mendatang.

”Tantangan kita sekarang tinggal di marketing saja, bagaimana bisa dapat buyer lagi,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#TERUJI #skincare #Secara #Tramena #kosmetik #ramah #lingkungan #Klinis