LombokPost--Kehadiran smelter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dinilai akan meningkatkan nilai ekspor konsentrat NTB ke depannya.
Hal tersebut dapat berimbas positif pada kesejahteraan masyarakat dan peningkatan perekonomian daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Berry Arifsyah Harahap mengatakan, PDRB di sektor lapangan usaha tambang tidak ada yang berubah.
Hal yang berbeda nantinya yakni pada posisi ekspor tambang.
”Hasil produk malahan akan meningkat kalau nanti di lapangan manufaktur industri itu naik, karena ekspornya nanti dalam berbagai bentuk,” ujarnya.
Dicontohkannya, nilai tambah yang dihasilkan dari produk smelter sebesar 10 persen.
Jika ekspor NTB sebesar Rp 1 triliun, makasih nilai tambahnya sebesar Rp 100 miliar yang akan dicatatkan baru di lapangan usaha industri ini.
”Ini sebenarnya positif, malahan tidak ada penurunan, yang terjadi malah naik, cuma proses value edit butuh investasi yang besar sekali,” sambungnya.
Meski kawasan industri di KSB belum tumbuh maksimal, namun Berry mengatakan, hal terpenting adalah smelternya.
Berbicara soal pertumbuhan kawasan industri, masih ada banyak masalah yang dihadapi.
Seperti infrastruktur, logistik, hingga bagaimana memindahkan manufaktur ke daerah produsen dan konsumen.
”Itu tidak mudah,” ucapnya.
Terlepas dari itu, smelter PT AMNT ini sudah berjalan dan akan mengirim hasil hilirisasi dalam bentuk ekspor barang setengah jadi.
Hal tersebut tentunya akan membuat nilai tambah produk ekspor konsentrat lebih naik.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, kebijakan hilirisasi mineral melalui smelter berpeluang mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Smelter mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah ekspor nantinya.
”NTB punya tambang dan smelter, ini akan mendongkrak ekonomi di NTB,” katanya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida