Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan 2023 sebesar 1,80 persen (yoy), meski lebih rendah dari proyeksi Bank Indonesia (BI) NTB sebesar 5,8-6,6 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, pertumbuhan positif ekonomi NTB diproyeksi akan terus berlanjut di 2025.
Tetap terjaganya kinerja konsumsi rumah tangga dan akselerasi kinerja investasi di NTB menjadi penopang utama.
Meski begitu, kegiatan penambangan yang lebih rendah (siklus batuan, Red) relatif menahan kenaikan pertumbuhan yang lebih tinggi.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2025 di kisaran 4,3 persen sampai 5,1 persen,” ujarnya, dalam kegiatan Bincang Bersama Media (BBM) di Mataram, Senin (10/2).
Lebih lanjut, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 lebih rendah dikarenakan proyeksi menurunnya sejumlah indikator yang menopang pertumbuhan ekonomi.
Seperti konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga, ekspor impor dan lainnya.
Selain itu, ada beberapa tantangan perekonomian yang akan dihadapi pada 2025.
Di antaranya, rencana produksi tembaga yang lebih rendah di tahun 2025, sejalan dengan siklus penambangan batuan penutup.
Kemudian terjadi kecenderungan melambatnya permintaan negara mitra dagang yang berpotensi berdampak pada kinerja ekspor.
“Pemberlakuan PPN 12 persen, dan pagu belanja APBD yang lebih rendah dibandingkan pagu tahun sebelumnya,” sambungnya.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi NTB di 2025, BI membeberkan beberapa strategi utama.
Di antaranya, mendorong jalannya sejumlah program strategis di sejumlah sektor unggulan NTB.
Seperti di sektor pertanian, NTB harus mendorong penggunaan dan perluasan bibit unggul, mendorong penerapan teknologi pertanian guna meningkatkan efisiensi, serta penguatan kelembagaan dan SDM.
Selanjutnya, investasi untuk penyerapan produk pertanian berupa industri makanan dan minuman.
NTB perlu mendorong kerjasama antara investor, industri, dan petani melalui skema investasi kolektif.
Kemudian melakukan business matching pelaku usaha dan investor, serta pemberdayaan dan peningkatan kapasitas petani dalam membuat produk olahan pertanian.
Investasi sektor potensial dalam hal ini pariwisata, NTB didorong melakukan penyediaan insentif dan kebijakan proinvestasi di KEK Mandalika.
Kemudian mendorong aksesibilitas intra maupun antar wilayah NTB.
“Khususnya untuk menghubungkan sektor pariwisata dan sentra UMKM,” kata Berry.
Pengembangan UMKM untuk mendorong sektor riil, NTB didorong memberikan pendampingan untuk peningkatan kapasitas termasuk sertifikasi untuk pasar ekspor.
Kemudian memfasilitasi akses ke pembiayaan yang mudah, serta business-matching pelaku usaha dan pasar potensial dalam negeri.
Sebelumnya, Kepala BPS NTB Wahyudin menerangkan, pada 2024 perekonomian NTB dengan tambang tumbuh sebesar 5,30 persen.
Jumlah ini di atas nasional yang tumbuh sebesar 5 persen. Sedangkan perekonomian NTB dengan tanpa tambang, juga tumbuh sebesar 3,87 persen.
“Ini naik cukup signifikan dibandingkan di 2023,” ujarnya.
Meski bertumbuh, namun perekonomian NTB tanpa tambang di 2024 mengalami penurunan.
Sebab itu, Wahyudin menilai pemerintah daerah perlu mendorong terus sektor di luar tambang. Seperti pertanian, perdagangan, industri dan konstruksi.
“Ini perlu kita push, makanya sudah kami sarankan untuk melirik sentra industri, dibikinkan kawasan sentral industri supaya lebih terarah pembinaan juga pemasarannya,” pungkasnya. (fer)
Editor : Kimda Farida