Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bank Indonesia Minta Perbankan Utamakan Sektor Prioritas dalam Penyaluran Kredit

nur cahaya • Rabu, 26 Februari 2025 | 07:50 WIB

 

Berry Arifsyah Harahap
Berry Arifsyah Harahap
 

LombokPost-Bank Indonesia (BI) NTB mendorong perbankan menyalurkan kredit di sektor-sektor prioritas. Tujuannya agar memberi dampak pada penyerapan tenaga kerja baru dan peningkatan pendapatan. “Sebenarnya pertumbuhan ekonomi itu penuh tantangan, kalau di nasional itu dari konsumsi rumah tangga yang melemah,” ujar Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap.

Melihat kondisi konsumsi rumah tangga yang melemah, diperlukan kebijakan untuk menguatkannya. “Memang perlu ada suatu kebijakan yang bagaimana bisa mendorong perbaikan dari konsumsi rumah tangga,” katanya.

Setelah melihat pergerakan ekonomi global, dalam kebijakannya, Bank Indonesia melakukan berbagai kelonggaran. Salah satunya, penurunan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Kemudian suku bunga deposit facility sebesar 5 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,50 persen.

Keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026, yang terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen. Kemudian terjaganya nilai tukar Rupiah yang sesuai fundamental untuk mengendalikan inflasi dalam sasarannya. Serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Penurunan suku bunga ini kita harapkan agar investasi lebih menarik,” sambungnya.

Dari dari sisi kebijakan makroprudensial, BI NTB mendorong perbankan untuk menyalurkan pada sektor-sektor prioritas. Terutama sektor-sektor yang berdampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Termasuk UMKM dan ekonomi hijau, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.  

Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, khususnya sektor perdagangan dan UMKM. Yakni dengan memperkuat infrastruktur, industri sistem pembayaran, dan akseptasi pembayaran digital. “Jadi ini (sektor prioritas, Red) bisa di revitalisasi, bisa tumbuh lebih baik lagi, supaya dampaknya ada lapangan kerja baru dan pendapatan meningkat, sehingga (industri, Red) bisa melakukan lebih baik,” terangnya.

Berry menambahkan, diturunkannya BI Rate sebesar 25 bps, juga mengindikasikan BI sudah pro-growth dari sisi moneter. “Artinya kita berupaya menumbuhkan ekonomi dari sisi moneter,” tandasnya. (fer/r6)

Editor : Redaksi Lombok Post
#BI #Bank Indonesia #Kelonggaran #Ekonomi #perbankan #Kredit #suku bunga