LombokPost-Perum Bulog NTB diminta mengoptimalkan serapan gabah petani lokal. Tujuannya, agar target serapan 180.600 ton setara beras dapat terserap maksimal. Sehingga beras impor tidak perlu masuk ke NTB.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan optimalisasi penyerahan gabah beras dalam negeri bersama Mitra Pengadaan Pangan (MPP) Perum Bulog NTB. Kegiatan dadakan di Kompleks Pergudangan Dasar Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, Selasa (11/3).
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto mengatakan, pihaknya memiliki stok beras yang melimpah. Rinciannya, 124.361 ton stok komersial dan 1,78 juta ton stok cadangan beras pemerintah (CBP).
Stok beras tersebut akan terus bertambah. Hal itu seiring dengan adanya target penyerapan beras petani sebanyak 3 juta ton. Beras petani lokal tersebut diserap dengan harga Rp 6.500 per kilogram Gabah Kering Panen (GKP). ”Dengan intervensi pemerintah ini, diharapkan nanti tidak saja swasembada beras, tapi juga mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Suyamto.
Pimpinan Bulog NTB Sri Munarti mengatakan, realisasi belanja sampai Maret 2025 sebanyak 9.272 ton setara beras. Jumlah ini 5,13 persen dari target 180.600 ton setara beras.
Untuk mempercepat penyerapan, Bulog NTB menerapkan sistem jemput gabah langsung ke sawah. Program ini dilakukan dengan berkoordinasi dengan TNI, khususnya Babinsa, untuk mengidentifikasi lokasi panen. “Kami memiliki tim jemput gabah yang bertugas langsung ke petani. Ini dilakukan agar petani tidak kesulitan menjual hasil panennya,” ujarnya.
“Selain itu, kami juga mengedukasi petani mengenai kemudahan bermitra dengan Bulog. Proses administrasi dibuat sederhana agar petani tidak merasa terbebani,” sambungnya.
Bulog NTB juga memastikan bahwa pembayaran kepada petani dilakukan dengan cepat. Begitu dokumen transaksi selesai, dana langsung ditransfer ke rekening petani atau kelompok tani.
Pembelian gabah di sawah tidak menggunakan kadar air. Hal terpenting, gabah petani tersebut bersih. Seperti tidak ada tidak ada jeraminya, tangkai padinya, atau kotoran-kotoran lain seperti sampah dan tanah.
Selain itu, Perum Bulog NTB menerapkan strategi revolving stok ke daerah-daerah lain. Hal ini dilakukan agar stok di gudang tetap memiliki kapasitas yang memadai untuk menyerap beras hasil panen petani. Dengan strategi yang telah diterapkan, Bulog NTB optimis dapat mencapai target serapan beras 180.600 ton hingga pada panen raya tahun ini.
Sekretaris Daerah NTB Lalu Gita Ariadi mengatakan, pertemuan dengan mitra dan pemangku kebijakan ini menjadi momentum awal terciptanya swasembada beras. "Agar negara tidak lagi mengimpor beras tapi mengandalkan potensi dalam negeri," ujarnya.
Pemprov NTB siap mengawal penyerahan gabah dan beras oleh Bulog dan mitra pengadaan pangan tersebut. Dijelaskannya, pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran Rp 16,6 triliun untuk membeli gabah beras petani. Pembelian harga beras yang tinggi diharapkan bisa memberikan kesejahteraan petani dan meningkatkan produksi. (fer/r6)
Editor : Jelo Sangaji