Kali ini dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara, bersama dengan Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan serta pemberdayaan Gerakan Pramuka melalui SAKA POM.
“Dalam kegiatan Inwas Pangan selama Ramadhan ini kami senantiasa melibatkan peran Pemda karena mereka merupakan garda terdepan dalam mengawal Keamanan Pangan di daerah, sehingga jika ada temuan harapannya dapat ditindaklanjuti secara lebih cepat dan efektif” jelas Kepala BBPOM Mataram, Yosef Dwi Irwan.
Dikatakannya, tim Terpadu melakukan pemeriksaan terhadap 6 sarana retail pangan dengan hasil 4 sarana Memenuhi Ketentuan dan 2 sarana Tidak Memenuhi Ketentuan.
Temuan berupa pangan rusak (produk yogurt) dan kemasan penyok (produk susu kental manis) sebanyak 199 pieces dengan nilai ekonomi Rp. 446.400.
Pangan rusak dilakukan pemusnahan oleh pemilik sedangkan pangan dengan kemasan penyok diperintahkan untuk dikembalikan ke suplier dengan disertai bukti retur.
“Jika konsumen menemukan pangan kaleng seperti susu kental manis, ikan kaleng, buah kaleng, dll dengan yang rusak jangan dibeli, meskipun dijual dengan harga diskon,” sambungnya.
“Pengemas kaleng yang sudah penyok pelapis bagian dalamnya dapat terkelupas dan dapat mengakibatkan karat pada bagian dalam sehingga mengakibatkan cemaran terhadap pangan tersebut” imbuhnya.
Meski jarang terjadi, produk kaleng penyok juga berpotensi menyebabkan keracunan makanan yang serius, yaitu botulisme.
Botulisme diakibatkan oleh bakteri Clostridium botulinum yang dapat tumbuh di dalam kaleng yang penyok, terutama pada bagian sambungan atas atau samping.
Kita tidak dapat melihat, mencium, ataupun merasakan kandungan toksin ini, namun sedikit kandungan toksin ini dapat menyebabkan kelumpuhan otot, kesulitan bernapas, dan bahkan kematian.
“Pedagang juga agar menyimpan produk pangan sesuai petunjuk dalam label, contohnya produk yogurt, seharusnya disimpan pada < 4 derajat Celcius, dalam lemari pendingin jika tidak dapat mengakibatkan kerusakan produk dan mengakibatkan keracunan pangan akibat tumbuhnya mikroba” jelas Yosef
Selain melakukan pemeriksaan sarana, Tim juga melakukan sampling dan uji cepat (rapid test) terhadap 41 sampel jajan takjil.
Di antaranya, mie basah, bakso, tahu, jajanan pasar (cenil, lupis, ketan dan lainnya), es dan minuman warna merah, sate, pepes kolak, kue lapis, kurma, cincau, cendol, puding, jeli, mutiara untuk cendol, saos, dan lainnya.
Hasilnya masih ditemukan 1 sampel mie basah yang positif Boraks
“Kami telah koordinasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara untuk dapat menindaklanjuti temuan tersebut, karena temuan mie basah tersebut di tingkat pedagang. Harus telusuri sampai ke tingkat produksi untuk dilakukan pembinaan dan memutus mata rantainya” terangnya.
Pada saat membeli takjil, Yosef mengimbau warga memastikan kebersihan dari lokasi jualan dan pedagangnya.
Seperti makanannya tertutup, pedagang menggunakan sarung tangan atau penjapit saat mengambil makanan.
Jika takjil nampak ada penyimpangan warna, bau dan rasa jangan dibeli.
“Jangan lupa untuk batasi konsumsi gula, garam dan lemak, jangan berlebihan, agar puasa Ramadan Aman dan Nyaman” imbaunya.
Guna meningkatkan kesadaran tentang arti penting Keamanan Pangan, Tim melakukan edukasi secara langsung kepada para pedagang dan konsumen, melalui pemberian leaflet tentang arti pentingnya Keamanan Pangan, Cek KLIK dan aplikasi BPOM Mobile.
Kegiatan Intensifikasi Keamanan Pangan Terpadu akan terus berlanjut sampai dengan Idul Fitri 1446 H.
Masyarkat yang melihat atau menemukan adanya pelanggaran di bidang Obat dan Makanan dapat melaporkan langsung di layanan informasi dan pengaduan masyarakat pada nomor 087871500533 (7x24 jam) atau datang langsung di kantor BBPOM di Mataram, Jl. Catur Warga – Kota Mataram. (Geumie)
Editor : Redaksi Lombok Post