LombokPost-Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat memberikan dampak signifikan bagi pelaku usaha perhotelan yang mengandalkan industri Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE). Hal ini dikhawatirkan berpotensi menyebabkan penurunan pendapatan bisnis, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja.
Namun kekhawatiran tersebut tidak begitu dirasakan pelaku bisnis perhotelan di Gili Tramena (Trawangan, Meno, dan Air). Ketua Gili Hotels Association (GHA) Lalu Kusnawan mengatakan, kebijakan tersebut memang memengaruhi aktivitas pariwisata, terutama yang berkaitan dengan perjalanan dinas instansi pemerintah dan BUMN. Namun di Tramena, dampak kebijakan tersebut tidak langsung terasa secara signifikan. ”Wisatawan di tiga gili ini terdiri dari campuran wisatawan domestik dan asing. Kegiatan seperti snorkeling trip juga terkena dampaknya,” ujarnya.
Contohnya seperti perusahaan korporat atau BUMN yang biasanya mengadakan kegiatan di Lombok dan menggunakan jasa hotel serta aktivitas snorkeling. Mereka kini mengurangi, bahkan mentiadakan anggaran untuk kegiatan tersebut.
Hal ini tentu berpengaruh pada pelaku usaha di Tramena yang mengandalkan pendapatan dari aktivitas wisata. Meski begitu, Ketua Indonesians Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB ini menegaskan, Tramena sudah memiliki nama besar di kalangan wisatawan. ”Tidak sedikit kementerian yang berkunjung atau melakukan kegiatan di Tramena,” sambungnya.
“Tapi jika dibandingkan dengan Mataram atau Lombok Barat, dampaknya di Kabupaten Lombok Utara, khususnya Tramena, relatif kecil,” jelasnya.
Mengenai isu PHK yang mungkin terjadi akibat kebijakan ini, Kusnawan menyatakan hal tersebut tidak akan terjadi. Okupansi hotel di Tramena pada bulan Februari mencapai 50 persen, dengan rata-rata kunjungan wisatawan sekitar 1.000 hingga 1.500 orang per hari. ”Kondisi ini menunjukkan Tramena masih menjadi destinasi favorit bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” tambahnya.
Pihaknya optimis industri pariwisata Tramena akan tetap bertahan meski ada tantangan dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Ia berharap agar pemerintah daerah dan pusat dapat terus mendukung sektor pariwisata, terutama di destinasi wisata unggulan seperti Gili Tramena. “Hal itu untuk memastikan kelangsungan usaha dan kesejahteraan masyarakat setempat,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Rury Anjas Andita