LombokPost-Sekitar tahun 2007 lalu, Nur Aini memulai perjalanan bisnis produk pisang sale miliknya. Semua berawal dari perempuan asal Telagawaru, Lombok Barat itu melihat potensi besar pada buah yang disukai banyak orang tersebut. Saat itu buah pisang dijual dengan harga yang sangat murah.
Bahkan buah ini dibuang petani lantaran tidak laku terjual. Pada saat itu, harganya anjlok di angka Rp 500 per sisir. Sementara petani sudah mengeluarkan ongkos besar untuk dibawa ke pasar. Pada akhirnya banyak pisang yang busuk dan dibuang begitu saja.
Melihat hal tersebut, terbersit ide di kepala Nur Aini untuk mengolahnya menjadi produk pisang sale. Semua pisang yang masih layak kemudian dikumpulkan dan dijemur. Sebelum dijemur, pisang tersebut diiris tipis agar nantinya kering lebih cepat. “Awalnya tidak langsung berhasil, saat digoreng malah gosong pisangnya, teksturnya juga keras, jadi terpaksa dibuang,” ujarnya.
Meski begitu, dirinya tidak menyerah. Kegagalan tersebut malah membuat dirinya terus maju berusaha hingga menemukan formulasi yang tepat. Menghasilkan pisang sale yang enak dan tidak keras.
Seiring berjalannya waktu, produk pisang sale Nur Aini terus berkembang. Bahan baku produknya tersebut dibeli di Pasar Mandalika di Mataram. Dirinya merekrut para tetangga untuk membantunya melakukan pengolahan, dengan cara diupah harian. “Saya beli sendiri bahan bakunya ke Pasar Mandalika,” katanya.
Produk pisang salenya dijual seharga Rp 10 ribu per bungkus dengan isi sebanyak 13 biji. Saat itu, kemasan produk Nur Aini belum seperti sekarang. Hanya dibungkus plastik dengan stiker bertuiskan “Dek Manha”, nama anaknya.
Berbisnis pisang sale ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak tantangan dan ujian yang dihadapinya, terutama kondisi musim. Pada musim hujan, produksi menjadi menurun lantaran dirinya hanya mengandalkan matahari untuk menjemur. “Saat itu belum ada alat pengering modern, semua masih mengandalkan sinar matahari,” terangnya.
Pada 2018, bisnis Nur Aini sempat berhenti lantaran musibah gempa bumi. Namun dengan gigih, dirinya bangkit dan bertahan. Hingga akhirnya pada 2019, dirinya mengubah nama merek produknya dari Dek Manha menjadi Manha 99. “Angka 99 itu dari Asmaul Husna. Saya berharap usaha ini juga jadi berkah,” bebernya.
Setelah berganti nama, bisnis Nur Aini mulai berkembang pesat. Sekarang produknya sudah masuk di hampir semua toko oleh-oleh di Lombok. Tak hanya itu, dirinya juga menjalin kemitraan dengan beberapa hotel berbintang. “Kalau ke hotel bisa sampai 1.000-3.000 bungkus sebulan, kita buat dalam kemasan mini,”katanya.
Tak hanya hotel, Nur Aini juga merambah pasar internasional. Melalui reseller di Hong Kong, dirinya rutin mengirim produk sebanyak dua kali sebulan dengan nilai pengiriman hingga Rp 7 juta per sekali kirim.
Saat ini Manha 99 memiliki lima orang tenaga kerja tetap dan jaringan mitra di Lombok Utara yang menyuplai pisang kering. Variasi produknya berupa pisang sale ori, mini stik sale karamel gula aren, mini stik coklat, dan mini stik sale jagung. Varian yang paling banyak dicari mini stik sale karamel gula aren. “Ragam varian rasa ini supaya konsumen tidak monoton seperti rasa pisang sale seperti pada umumnya,” jelasnya.
Selain pisang sale, Nur Aini juga mengembangkan produk lainnya seperti sambal, kacang dan keripik. (fer/r6)
Editor : Prihadi Zoldic