Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Buruan Gabung, Bulog NTB Buka Peluang Kemitraaan Serap Beras dan Gabah Petani, Begini Caranya

Geumerie Ayu • Jumat, 9 Mei 2025 | 12:35 WIB

Pimwil Bulog NTB, Sri Muniarti
Pimwil Bulog NTB, Sri Muniarti
LombokPost – Badan Urusan Logistik (Bulog) NTB membuka peluang mitra untuk percepatan penyerapan gabah petani lokal.

Sejauh ini Bulog NTB telah bermitra dengan 110 mitra, yang tersebar baik di kantor wilayah  (kanwil) maupun cabang Bulog di 10 kabupaten dan kota.

Jumlah ini bertambah dari sebelumnya di akhir tahun 2024 masih 90-an mitra, jadi untuk optimalisasi ini Bulog NTB buka kerja sama mitra.

Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog NTB Sri Muniarti mengatakan, dalam penyerapan gabah Bulog NTB memiliki mitra yang membantu menyerap hasil panen petani.

Mulai dari mitra maklon, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dinas pertanian, hingga mitra pengolahan seperti pengeringan dan penggilingan padi.

“Kalau ada penggilingan yang belum menjadi mitra bisa diinformasikan ke kami, atau orang yang mau sewakan gudang juga bisa diinfokan atau hubungi kami,” ujarnya.

Pada tahun ini, Bulog NTB ditargetkan menyerap gabah petani sebesar 109.831 ton GKP, sedangkan beras ditargetkan 120.973 ton.

Hingga 27 April 2025, pihaknya sudah merealisasikan serapan gabah sebanyak 147.292 ton atau 134 persen GKP.

Sementara untuk beras telah direalisasikan mencapai 22.332 ton atau 18 persen.

“Harga pembelian pemerintah (HPP) GKP yakni Rp 6.500 per kilogram GKP, sedangkan beras Rp 12.000 per kilogram,” kata perempuan berhijab ini.

Dibeberkannya, stok cadangan beras pemerintah yang dikuasai Kanwil Bulog NTB sebanyak 105.000 ton setara beras.

Jumlah ini sangat memadai dan apabila pemerintah menugaskan Bulog NTB untuk melakukan penyaluran.

Soal kualitas, stok cadangan beras pemerintah ini merupakan beras medium yang kondisinya baik, yang merupakan hasil dari pengolahan mitra-mitra Bulog NTB.

“Harga beras medium yang ada di pasaran masih sekitar Rp13.000 per kilogram. Harga ini lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) pemerintah yakni Rp12.500 per kilogram,” terangnya.

Sri menjelaskan, potensi serapan gabah di NTB sangat luar biasa karena didukung oleh keaktifan dari mitra kerja dalam menyerap gabah.

Meski pun dengan sarana maupun infrastruktur pengeringan dan penggilingan yang masih terbatas.

“Kami sudah mendorong mitra-mitra Bulog untuk melakukan modernisasi sarana sebab NTB berada di provinsi yang pontensi gabahnya yang sangat luar biasa,” jelasnya.

Di sisi lainnya, selain penyerapan beras, Bulog NTB juga mendapat penugasan penyerapan hasil panen jagung tahun ini sebesar 78 ribu ton.

Penyerapan jagung petani lokal NTB tersebut akan dilakukan hingga akhir tahun nanti.

“Berbeda dengan beras, untuk jagung ini waktu penugasannya sepanjang tahun, artinya sampai dengan akhir tahun,” ujar Pimwil Bulog NTB Sri Muniarti.

JEMUR: Salah seorang petani NTB tengah menjemur hasil panen jagungnya, beberapa waktu lalu.
JEMUR: Salah seorang petani NTB tengah menjemur hasil panen jagungnya, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Sri, saat ini Bulog telah melakukan serapan sebanyak 250 ton saat musim panen pertama di Kabupaten Sumbawa.

Jumlah tersebut diakuinya masih sangat kecil dari target yang diberikan sebesar 78 ribu ton.

“Karena kan baru panen, ini akan terus bertambah (serapan,Red)” sambungnya.

Dalam penyerapan jagung pipilan kering ini, Bulog NTB berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder.

Di antaranya, Pemprov NTB dan Polda NTB. Koordinasi dengan Pemprov NTB, kata Sri, terkait gudang penyimpanan.

“Sedangkan dengan Polda, kita ketahui bahwa Polri mendapatkan tugas pendampingan maupun pengawalan selama ini berjalan,” jelasnya.

Beberapa waktu lalu, Polri juga melakukan program taman jagung serentak.

Di NTB, selain jagung masyarakat umum, Bulog NTB juga bakal menyerap hasil panen jagung binaan Polda hingga Polres di tiap kabupaten/kota.

“Harga pembeliannya 5.500 rupiah, jagung ini Bulog Hanya menyerap sesuai dengan standar jagung pemerintah, dan kadar air simpan nya 14 persen,” jelasnya.

Sri melanjutkan, pihaknya juga telah membentuk Satgas atau tim serap jagung di setiap cabang Bulog di NTB.

Tujuannya, untuk memudahkan Bulog mendapatkan informasi terkait petani yang ingin menjual jagungnya.

“Untuk jagung ini serapannya ada dua, ada yang di jemput dan ada yang bawa langsung petaninya ke gudang Bulog,” tandasnya. (fer/r6)

Editor : Kimda Farida
#Jagung #kemitraan #Mitra #Serap Gabah #Beras #Bulog NTB