Baru-baru ini ada tenun yang menarik perhatian para duta besar dan delegasi diplomatik dari 27 negara yang datang ke NTB, namanya Tenun Donggo, dari Kabupaten Bima.
Tenun Donggo ini digunakan oleh Kepala Dinas Perindustrian NTB Hj Nuryanti saat menyambut tamu delegasi 27 negara tersebut.
Kain tenun Donggo yang digunakan perempuan berhijab itu berwarna hitam dan biru ayang sarat akan makna.
Hitam sebagai simbol keteguhan dan akar tradisi masyarakat Mbojo, serta biru yang menggambarkan keterbukaan, ketulusan, dan semangat menyambut dunia luar.
“Kita tidak hanya memamerkan produk, tapi memperkenalkan narasi budaya dan ekonomi kreatif NTB kepada dunia. Tenun, kuliner, dan kriya lokal adalah wajah dari masyarakat kita yang bekerja dengan hati dan warisan leluhur,” ujar perempuan yang akrab disapa bunda Yanti itu.
Tenun Donggo berbeda dengan kain tenun Bima lainnya seperti Tembe Nggoli.
Benang yang digunakan bukanlah benang yan sering ditemui di pasar-pasar.
Tenun Donggo lahir dari kekayaan alam Bima melalui tangan perajin tenun secara turun temurun yang sangat mencintai warisan leluhurnya.
Proses penciptaan tenun Donggo ini memakai pewarnaan warna-warna alam.
Pemilihan motif-motifnya yang indah dan sarat makna begitu unik, merepresentasikan budaya masyarakat Donggo.
Motif biru segi empat di ujung kain menunjukan empat arah mata angin.
Menurut kepercayaan masyarakat Donggo, tenun merupakan sebuah simbol kehidupan yang melatarbelakangi sebuah upaya dalam memaknai kehidupan.
Dengan pintalan benang yang dibuat menjadi kain tenun yang sudah berusia ratusan tahun.
Di dalam lingkup masyarakat Donggo ada istilah menenun kehidupan dan menenun kematian.
Masyarakat di sana membuat tenun tidak saja untuk persiapan kehidupan, akan tetapi juga persiapan kematian.
Wakil Gubernur NTB Indah Damayanti Putri mengatakan, tenun Donggo kini sudah tembus pasar dunia.
Sudah ada desainer lokal yang menggunakan kain tenun Donggo sebagai bahan pembuatan karya busana mereka.
“Beberapa desainer nasional sekarang banyak membuat baju dari kain Donggo, salah satunya Dian Oerip,” kata mantan bupati Bima dua periode ini.
Tenun Donggo Dipercaya Memiliki Khasiat Kesehatan
Tenun Donggo atau yang dikenal juga dengan Tembe Donggo merupakan warisan leluhur sejak ratusan tahun silam yang nyaris punah namun berhasil dijaga kelestariannya hingga saat ini.
Tembe Donggo ini kabarnya hanya muncul pada momen-momen tertentu, seperti salah satunya melalui Lomba Desa.
Motif Tembe Donggo, rata-rata bergaris bitu dan putih dalam balutan warna hitam (dominan).
Tembe Donggo, dulu terbuat dari kapas asli, kemudian berproses lalu ditenun oleh warga di hampir tiap rumah.
Dulu, perkebunan kapas di Donggo sangat banyak.
Namun seiring dengan perkembangan zaman dan sampai sekarang, kapanpun tak lagi terlihat di kebun-kebun alias sudah punah.
Seiring dengan punahnya kapas, maka sejak saat itu pula pengerajin tenunan Tembe Donggo mulai berkurang.
Untuk menjaga eksistensinya, Tembe Donggo yang asli juga masih disimpan oleh para tetuah di Donggo. Tetapi untuk mendapatkannya atau sekedar meminjam untuk kegiatan-kegiatan tertentu diakui sangatlah sulit.
Hal itu bukan dikarenakan warganya pelit, mereka enggan meminjamkan hal tersebut karena alasan khawatir Tenun Donggo tersebut rusak atau lainnya.
Kebanyakan warga meyakini bahwa Tembe Donggo asli, memiliki fungsi menghangatkan badan di musim dingin dan mampu mengobati gatal-gatal.
Selain itu, keunikan Tembe Donggo asli ini, bisa menyegarkan badan jika digunakan di saat musim panas.
Rata-rata para tetuah, menyimpan Tembe Donggo asli ini di dalam lemari dengan proses penyimpaan yang sangat steril, dan tidak disatukan dengan barang-barang apapun (pakaian lainnya).
Upaya tersebut, diakui lebih kepada menjaga kekhasan dan “khasiatnya”.
Sebagai upaya pelestarian, kini muncul kreasi baru dari warga Donggo terutama di kalangan anak-anak muda yang menduplikasinya dari benang-benang modern alias hasil pabrikasi, dan hasilnya mampu menampilkan motif yang menyerupai aslinya.
Tembe Donggo pabrikasi ini kerap dimunculkan oleh anak-anak muda dan orang tua di Donggo pada moment-moment tertentu, salah satunya pada Hari Ulang Tahun (HUT) Bima tiap tahunnya.
Tembe Donggo bukan saja digunakan pada acara sholat oleh kaum laki-laki maupun perempuan.
Namun, tembe Donggo juga bisa dijadikan baju dan jilbab bagi kalangan anak-anak muda Donggo baik yang ada Kota Bima, Kabupaten Bima dan bahkan di Kabupaten Dompu.
Tampilan wanita Donggo khususnya anak-anak muda dalam bungkusan Tembe Donggo tersebut, membuat mereka terlihat sangat 'berbeda' dengan perempuan dari wilayah lainnya khususnya di Bima dan Dompu. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida