Munapa’a dalam bahasa lokal berarti berbentuk pahat, memiliki ciri khas unik berupa efek timbul pada benang yang menyerupai ukiran.
Ciri inilah yang membedakan Munapa’a dari tenun daerah lain.
Kepala Disperin NTB Hj Nuryanti menjelaskan, warisan budaya seperti tenun Munapa’a harus ditempatkan dalam peta pembangunan ekonomi daerah.
Sebab tenun Munapa’a baginya bukan hanya seni, tapi juga strategi.
“Tenun adalah bahasa budaya kita yang paling awal, dan ketika budaya ini dipadukan dengan sentuhan inovasi industri, ia akan menjadi bahasa ekonomi masa depan,” ujarnya.
“Di sinilah letak pentingnya pelatihan seperti ini, kita tidak hanya menjaga identitas, tapi mengangkatnya ke level yang memberi kesejahteraan,” sambungnya.
Tenun ini memiliki nilai sejarah dan filosofis yang kuat, yang tak lepas dari sosok Umi Hajrah, perempuan yang memperkenalkan dan mengembangkan teknik Munapa’a sejak 1987.
Saat ini, hampir setiap rumah di Desa Ranggo memiliki alat tenun sendiri.
Hal itu menjadikan desa ini sebagai episentrum tenun khas Dompu tersebut.
Dari sisi pasar, motif tenun Munapa’a semakin diminati.
Beberapa motif yang paling laris antara lain Dumu Kakando, Wijik Susun, hingga Wunta Taride.
Harganya pun bervariasi antara Rp 450.000 hingga Rp 650.000, tergantung pada kerumitan dan teknik pewarnaannya.
Dengan pelatihan ini, penenun tak hanya memperluas kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat daya tawar mereka dalam pasar yang makin kompetitif.
Pemerintah NTB terus menggaungkan pelestarian budaya dan penguatan industri lokal melalui pelatihan.
Seperti pelatihan Tenun dan Desain Munapa’a yang digelar Dinas Perindustrian (Disperin) NTB di Desa Ranggo, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu, belum lama ini.
Kegiatan selama tiga hari itu menjadi bukti keseriusan daerah dalam mengangkat kain tenun Munapa’a.
Yakni dari sekadar warisan budaya menjadi komoditas strategis ekonomi kreatif yang siap menembus pasar nasional hingga global.
Pelatihan tersebut juga menjadi momentum membangun kesadaran baru.
Pelestarian budaya tidak harus berhenti pada romantisme masa lalu, justru menjadi titik tolak inovasi.
Menjadi simbol dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pelaku industri wastra lokal.
Sekaligus mendorong agar Munapa’a menjadi kebanggaan kolektif NTB, dari desa ke dunia.
“Saya bangga melihat semangat para ibu di sini. Munapa’a bukan sekadar wastra, tetapi juga warisan yang hidup dan menghidupi. Jika dikelola dengan baik, tenun ini bisa menjadi sumber ekonomi utama masyarakat Ranggo, bahkan menjadi identitas NTB di kancah nasional dan internasional,” ujar Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia M Iqbal.
Tak hanya itu, Sinta juga mengunjungi Galeri Munapa’a, sebuah pusat kerajinan lokal yang menjadi saksi perjalanan panjang keberadaan tenun khas Dompu ini.
Dalam kunjungan tersebut, ia terkesima dengan kualitas dan ragam motif yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil perempuan desa.
Pelatihan yang diberikan menjadi bekal pengetahuan praktis dan teoritis kepada para penenun.
Termasuk materi tentang pengembangan desain produk, teknik pewarnaan alami, hingga desain motif geografis yang mengangkat unsur alam dan budaya lokal.
Editor : Siti Aeny Maryam