Setelah kontraknya diputus karena pengurangan pegawai, Samsir tak menyerah.
Samsir bangkit dan kini menjelma menjadi pengusaha ayam petelur dengan omzet puluhan juta Rupiah setiap bulannya.
Awalnya, Samsir mencoba berjualan ayam kepada peternak lain.
Namun, kebijakan lockdown membuatnya harus putar otak.
Ia pun memutuskan membangun kandang sendiri untuk mengembangkan usaha ayam petelur.
“Tidak ada rencana menelurkannya (ayam,Red), tapi perputaran ekonomi di Lombok Tengah stagnan, sehingga mau tidak mau kami bangun kandang petelur kami sendiri,” ujarnya.
Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Samsir sebagai pelaku usaha baru.
Samsir sempat harus berkeliling menjual telur di pinggir jalan karena sepi pembeli.
“Waktu itu kami ingat rugi per hari itu sekitar Rp 500 ribu, karena daya beli masyarakat masyarakat turun, biaya produksi Rp 27 ribu sedangkan kami jual 25 ribu per tray,” bebernya.
Kegigihan Samsir perlahan membuahkan hasil.
Usahanya kini berkembang pesat, dari semula hanya 2.000 ekor ayam petelur menjadi 8.000 ekor.
Telur-telurnya yang dulu dijual di pinggir jalan, kini telah menembus pasar yang lebih besar.
Dipasok ke sejumlah hotel berbintang, serta pasar-pasar besar di Lombok Tengah dan Lombok Barat.
Omzet peternakan ayam petelur Samsir hingga Rp 25 juta per bulan.
Berkat kerja kerasnya, ia berencana menambah jumlah ayam petelur hingga mencapai 6.000 ekor lagi.
Tak hanya sukses untuk dirinya sendiri, Samsir juga memberdayakan warga sekitar sebagai pekerja.
“Pekerja itu di bagian pullet empat orang, produksi itu enam orang dan ada yang lainnya enam orang, dan itu warga sekitar semua,” tandasnya. ***
Editor : Siti Aeny Maryam