
LombokPost - Tidak semua peristiwa yang terjadi bersamaan memiliki hubungan sebab-akibat. Namun dalam ruang publik, keduanya sering kali diperlakukan seolah memiliki keterkaitan yang pasti.
Ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat terhadap rupiah dan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) meningkat, kesimpulan pun dengan cepat bermunculan: wisatawan datang karena Indonesia menjadi lebih murah.
Sekilas, penjelasan tersebut terdengar logis. Ketika rupiah melemah, biaya hotel, transportasi, kuliner, dan berbagai aktivitas wisata memang menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
Baca Juga: Dolar AS di Level Rp 18.134 Kian Melemah, Ujian Berat Koordinasi Moneter-Fiskal
Namun dunia pariwisata tidak bekerja sesederhana pergerakan kurs mata uang. Di balik setiap angka kunjungan wisatawan terdapat rangkaian faktor yang jauh lebih kompleks daripada sekadar selisih nilai tukar.
Karena itu, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid pada April 2026 mencapai 8.686 orang atau meningkat 35,13 persen dibandingkan Maret 2026 yang sebanyak 6.428 orang, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah seberapa besar dolar menguat, melainkan apa yang sesungguhnya mendorong peningkatan kunjungan tersebut.
Pertanyaan ini penting karena kenaikan wisatawan pada April 2026 terjadi ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada pada kondisi yang relatif stabil dan belum mengalami tekanan signifikan sebagaimana yang kemudian menjadi perhatian publik pada bulan-bulan berikutnya.
Dengan kata lain, peningkatan kunjungan wisatawan sudah terlihat lebih dahulu sebelum pelemahan rupiah menjadi isu yang dominan. Secara kronologis, fakta ini saja sudah menunjukkan bahwa menjadikan kurs sebagai penjelasan utama atas kenaikan wisatawan merupakan kesimpulan yang terlalu terburu-buru.
Dalam ilmu statistik terdapat prinsip yang sangat mendasar. Yaitu correlation does not imply causation - korelasi tidak selalu berarti kausalitas.
Dua peristiwa dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan tanpa memiliki hubungan sebab-akibat yang langsung. Karena itu, kehadiran dua fenomena secara bersamaan tidak cukup untuk membuktikan bahwa salah satunya menjadi penyebab yang lain.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah, Dunia Usaha Mulai Tertekan
Memang benar, dalam teori ekonomi pariwisata, nilai tukar memiliki pengaruh terhadap daya saing destinasi. Ketika rupiah melemah, wisatawan asing memperoleh daya beli yang lebih besar untuk menikmati akomodasi, kuliner, maupun berbagai aktivitas wisata di Indonesia. Namun para ahli pariwisata tidak pernah menempatkan kurs sebagai satu-satunya faktor penentu keputusan perjalanan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




