Salah satu kawasan yang tengah diatensi adalah destinasi wisata Kota Tua Ampenan.
Kawasan ini coba didorong menjadi zona kawasan wisata kuliner halal yang terintegrasi.
Deputi Kepala BI NTB Andhi Wahyu Riyadno mengatakan, pihaknya mendorong pengusaha di Kota Tua Ampenan bersiap.
Sebab kawasan tersebut akan ditata menjadi zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS).
“Sebenarnya kabupaten dan kota punya kandidatnya masing-masing, cuma mungkin kami mulai dari yang dekat dulu dan paling memungkinkan kaitanya dengan hal yang ingin kita lakukan ini adalah Kota Tua Ampenan,” jelasnya.
Dijelaskannya, selain sebagai destinasi wisata, Kota Tua Ampenan juga memiliki banyak potensi kuliner menarik.
Untuk bisa menjadi zona KHAS, para pelaku usahanya harus memiliki sertifikasi halal.
Kemudian kuliner yang disajikan harus aman dan sehat.
“Di situ perlu keterlibatan Dinas Kesehatan setempat nantinya,” sambungnya.
Dalam upaya menjadikan Kota Tua Ampenan jadi zona KHAS, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai stakeholder terkait.
Mulai dari pengaturan kebersihan dan sampah lokasi dan lapaknya.
Kemudian membantu sertifikasi halal pelaku usaha, hingga bantuan sarpras kebersihan.
Harapannya, upaya ini dapat membantu menumbuhkan perekonomian di kawasan tersebut.
Selain itu, ke depan juga bisa menjadi motivasi bagi daerah lainnya untuk melakukan hal serupa.
“Jadi kita akan buat bagus supaya tumbuh perekonomiannya, karena yang mendukung di pariwisata itu adalah akomodasi dan makan minumnya,” tandasnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kota Mataram H Muhammad Ramadhani mengatakan, pihaknya menjajaki proses sertifikasi halal bagi lapak makanan di eks Pelabuhan Ampenan.
“Branding halal bukan hanya soal bahan makanan. Pengelolaan kawasan juga harus mencerminkan nilai-nilai wisata halal, selain kebersihan, sanitasi, toilet umum, hingga fasilitas ibadah seperti musala,” ujarnya.
Upaya ini bukan hanya bertujuan meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga membuka peluang baru bagi UMKM lokal.
Yakni peluang untuk menjangkau pasar lebih luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.
Pihaknya juga mendorong pelaku UMKM di kawasan Kota Tua Ampenan dapat menjual produk buatan sendiri.
Seperti kue rumahan, roti, dan makanan tradisional lokal.
“Label halal adalah daya saing. Tapi yang lebih penting, kita ingin UMKM kita naik kelas dan mandiri,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida