Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga, Sinergi Lintas Lembaga Digenjot Hadapi Ketidakpastian Global

Nurul Hidayati • Selasa, 29 Juli 2025 | 04:00 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia pada triwulan II 2025 terpantau tetap terjaga.

Keberhasilan ini tak lepas dari kesepakatan negosiasi tarif resiprokal antara Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

Meskipun demikian, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) – yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) – tetap menyerukan penguatan kewaspadaan dan respons kebijakan yang efektif.

 Baca Juga: Ekonomi Global Melambat Dampaknya Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2025 Diperkirakan 3 Persen

Dalam rapat berkala KSSK III tahun 2025 pada akhir pecan lalu para anggota KSSK sepakat untuk terus memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan antarlembaga, serta dengan Kementerian/Lembaga lain.

Langkah ini krusial untuk memastikan SSK senantiasa terjaga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketidakpastian ekonomi global di triwulan II 2025 memang cukup bergejolak, dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS dan eskalasi ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah.

 Baca Juga: Sektor Keuangan NTB Tetap Kuat di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Pada April 2025, pengumuman tarif resiprokal AS dan retaliasi dari Tiongkok telah memicu volatilitas pasar global.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada Juni 2025 semakin memperkeruh suasana, berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara besar seperti AS, Eropa, dan Jepang.

Ekonomi Tiongkok sendiri mencatat pertumbuhan 5,2 persen year-on-year (yoy) di triwulan II 2025, sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya (5,4 persen yoy) akibat penurunan ekspor ke AS.

 Baca Juga: Investor Saham Indonesia Bertumbuh di tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Sementara itu, India diprakirakan tumbuh positif berkat investasi yang kuat.

Negara berkembang lainnya juga mengalami perlambatan akibat penurunan ekspor ke AS dan melemahnya perdagangan global.

Fenomena pergeseran aliran modal dari AS ke aset-aset "aman" seperti aset keuangan di Eropa, Jepang, dan emas, serta ke emerging markets (EM) turut mendorong pelemahan mata uang dolar AS terhadap mata uang global.

Dengan perkembangan ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi global ikut direvisi.

World Bank dalam laporan Juni 2025 memperkirakan pertumbuhan global sebesar 2,9 persen (PPP weights) untuk tahun 2025, turun dari proyeksi sebelumnya 3,2 persen.

Senada, OECD juga merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global 2025 dari 3,1 persen menjadi 2,9 persen.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post
 

Meskipun di tengah ketidakpastian global, KSSK tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 akan tetap terjaga.

Ini menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan ekonomi di tahun 2025 yang diproyeksikan sekitar 5,0 persen.

Optimisme ini didukung oleh beberapa faktor kuncinya.

Konsumsi dan Daya Beli: Konsumsi domestik dan daya beli masyarakat yang masih positif menjadi penopang utama.

Aktivitas Dunia Usaha: Sektor dunia usaha menunjukkan resiliensi yang baik.

Peran APBN: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan aktif dalam menjalankan fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Pemerintah terus memberikan stimulus ekonomi, mendorong implementasi program strategis, mendukung sektor prioritas, serta menyediakan bantalan bagi sektor yang rentan.

Kinerja Ekspor Kuat: Ekspor Indonesia tetap menunjukkan kekuatan dengan mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 15,38 miliar year-to-date per Mei 2025, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (USD 13,06 miliar ytd Mei 2024).

Kebijakan Moneter BI: Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga, melonggarkan likuiditas, dan meningkatkan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong kredit/pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.

Ke depan, respons bauran kebijakan ekonomi nasional akan terus ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan. Ini termasuk aktif menjajaki potensi kerja sama bilateral maupun multilateral.

Keberhasilan negosiasi penurunan tarif resiprokal AS untuk Indonesia menjadi 19% diprakirakan akan menopang kinerja sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur, yang merupakan andalan ekspor Indonesia.

Di sisi lain, implementasi tarif impor 0 persen atas produk asal AS diprakirakan akan mendorong harga produk migas dan pangan domestik menjadi lebih rendah, menguntungkan konsumen.

Meski demikian, perkembangan risiko rambatan perlu terus dicermati, termasuk kinerja sektor manufaktur yang masih menunjukkan kontraksi di sepanjang triwulan II 2025 (PMI Manufaktur Juni 2025: 46,9).

 

Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga, Sinergi Lintas Lembaga Digenjot Hadapi Ketidakpastian Global
Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga, Sinergi Lintas Lembaga Digenjot Hadapi Ketidakpastian Global

Peran swasta sebagai motor pertumbuhan juga akan terus didorong melalui percepatan deregulasi, dan peran Danantara dipastikan berjalan optimal.

Dengan berbagai perkembangan dan koordinasi strategi kebijakan ini untuk menciptakan multiplier effect yang lebih besar.

Ekonomi Indonesia tahun 2025 diproyeksikan akan tumbuh sekitar 5,0 persen, menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global.

Editor : Redaksi Lombok Post
#menteri keuangan #Terjaga #BI #global #Ekonomi #OJK #lps #kebijakan