Salah satu agen beras di Pasar Induk Mandalika Ida Ayu Citra menyebut ini bukan karena isu beras oplosan.
“Penjualan sepi, bukan karena isu beras oplosan itu, tapi karena bansos,” ujar Ida Ayu saat ditemui di lapaknya.
Dijelaskannya, setiap kali bantuan beras dari pemerintah disalurkan, otomatis masyarakat penerima tidak lagi membeli beras di pasar.
Hal ini menyebabkan penjualan para pedagang melempem.
“Begitu bansos cair, masyarakat dapat beras gratis, ya mereka enggak beli lagi. Otomatis pasar sepi, harga juga jadi naik, karena perputaran lambat,” ujarnya.
Ida Ayu juga mengeluhkan tekanan harga di lapangan.
Banyak pembeli kini hanya mencari beras murah di kisaran Rp 330.000 per 25 kilogram.
Sementara harga tersebut tidak sebanding dengan harga modal yang ia keluarkan.
“Orang nyari yang Rp 330 ribu. Padahal kita modal saja sudah di atas itu. Bagaimana bisa jual,” keluhnya.
Meski pun sempat ramai pemberitaan soal beras oplosan, Ida Ayu menegaskan, hal tersebut tidak membuat masyarakat takut atau enggan membeli beras di pasar.
Menurutnya, konsumen tetap membeli seperti biasa, selama harganya sesuai kantong mereka.
“Orang tetap beli seperti biasa. Enggak ada yang nanya soal oplosan atau curiga-curiga. Mereka lebih mikir harga sih, bukan isu,” tandasnya.
Penjual beras lainnya, Wayan Sukma mengatakan hal yang sama.
Tak ada dampak dari temuan beras oplosan.
Pembeli berasnya sebagian besar merupakan warga yang sudah lama berlangganan.
“Masih stabil, kebanyakan yang beli beras Tanjung,” katanya. (fer/r6)
Baca Juga: Lagu What If Milik J-Hope BTS Hiasi Trailer Serial Hollywood 'Butterfly'
Editor : Kimda Farida