LombokPost – Dalam upaya pengembangan UMKM, BI NTB memiliki dua skema, binaan dan mitra.
Deputi Kepala BI NTB Andhi Wahyu Riydno mengatakan, tidak semua sektor UMKM bisa masuk dalam kategori binaan.
Ada sejumlah kriteria yang menjadi prioritas.
Di antaranya, UMKM berorientasi ekspor serta yang bergerak di sektor pangan.
Terutama komoditas volatile food yang erat kaitannya dengan pengendalian inflasi.
“Sektor pangan seperti padi, bawang, dan cabai itu menjadi prioritas kami. Selain itu, sektor ekspor juga penting, misalnya home decor, vanili, kemiri, hingga ketak,” ujar Andhi.
Andhi menjelaskan, dalam pengembangan UMKM terdapat dua skema program, yakni program binaan dan mitra.
Skema binaan BI, kata Andhi, lebih ketat.
UMKM yang masuk dalam kategori ini wajib memberikan laporan perkembangan usaha setiap tiga bulan.
“Mekanisme ini ditujukan untuk memastikan perkembangan usaha dan peningkatan kapasitas berjalan terukur,” jelasnya.
Sedangkan meknisme mitra lebih fleksibel.
Pola kerja samanya tidak seketat binaan.
Namun tetap mengacu pada penguatan usaha dan akses pasar.
“Kalau binaan memang agak berat, karena setiap tiga bulan harus ada laporan perkembangan. Ini yang kadang jadi tantangan bagi UMKM,” tambahnya.
Selain komoditas pangan, BI NTB juga menaruh perhatian pada sektor fesyen, terutama modest fashion.
Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam industri busana syariah.
Sehingga peluang pengembangannya sangat besar.
Melalui program ini, BI berharap UMKM NTB bisa semakin berkembang.
Baik dalam kualitas produksi maupun akses pasar, nasional maupun internasional.
BI tidak hanya ingin menyiapkan UMKM NTB menghadapi pasar domestik.
Namun juga membuka peluang untuk menembus pasar global. (fer/r6)
Editor : Pujo Nugroho