Ketua Koperasi Porang Berkah Gumi Lombok (BGL) Putra Anom mengatakan, sertifikasi varietas ini sudah diusulkan sejak 2024.
Namun hingga kini belum berlanjut ke tahap berikutnya.
Pihaknya dalam waktu dekat akan menemui bupati Lombok Utara terkait hal tersebut.
Mereka juga akan meminta bupati mendorong gerak nyata OPD terkait, agar sertifikasi segera diproses ke Kementerian.
“Tinggal satu langkah lagi Pemda KLU untuk menghadap kementerian. Jangan sampai upaya ini berhenti di tengah jalan,” tegas Putra.
Menurutnya, sertifikasi varietas Lombos KLU1 sangat penting karena bisa menjadi tonggak besar bagi petani porang di daerah.
Saat ini, di Indonesia baru ada satu varietas porang bersertifikat, yakni Lombos Madiun1.
“Jika Lombos KLU1 berhasil, maka Lombok Utara akan menjadi daerah kedua yang memiliki varietas resmi,” sambungnya.
Menurut Putra, dampaknya juga tidak main-main.
Sertifikasi ini membuat petani Lombok Utara bisa memproduksi dan memperjualbelikan bibit secara legal ke seluruh Indonesia.
Yang paling dekat, daerah tetangga seperti Lombok Timur, berencana menganggarkan pengadaan bibit porang.
“Otomatis bisa melibatkan petani Lombok Utara sebagai pemasok,” katanya.
Lebih jauh dia menekankan, Koperasi Porang BGL memiliki kemampuan suplai yang signifikan.
Pabrik di Lombok Timur membutuhkan sekitar 80 ton porang per hari.
Sedangkan petani Lombok Utara mampu menyediakan hingga 115 ton per hari selama musim panen.
“Sebesar apa pun pabrik di NTB, kalau tidak berkolaborasi dengan BGL, suplainya pasti tersendat. Tahun lalu saja, petani KLU bisa produksi sampai 115 ton per hari,” jelasnya.
Porang sendiri memang bukan komoditas konsumsi langsung.
Namun setelah melalui industrialisasi bisa diolah menjadi tepung hingga beras porang dengan nilai ekonomi tinggi. Karena itu, pihaknya berharap pemda tidak menutup mata terhadap potensi besar ini.
“Pondasi sudah ada, proses sertifikasi juga sudah berjalan. Tinggal bagaimana pemerintah benar-benar serius memberi perhatian,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida