Namun, di balik euforia ini, ada fakta mengejutkan: lonjakan harga bukan didorong oleh investor ritel, melainkan uang besar dari institusi dan korporasi global.
Dikutip dari BeInCrypto, Selasa (7/10), lonjakan harga Bitcoin kali ini lebih banyak digerakkan oleh dana institusi dan korporasi besar.
Arus masuk dari perusahaan investasi raksasa mengalahkan gelombang posisi short (taruhan harga turun) dalam jumlah besar, memicu likuidasi masif di pasar berjangka.
Biasanya, ketika Bitcoin mencetak rekor baru, harga akan terkoreksi karena aksi ambil untung dari trader ritel. Tapi kali ini berbeda.
Setelah mencapai titik tertinggi, harga sempat turun tipis, lalu kembali naik karena pembelian institusional terus berlanjut.
“Rekor kali ini tak menunjukkan pola klasik. Biasanya kenaikan besar disusul koreksi cepat karena trader mengambil untung. Sekarang, pasar justru tetap kuat,” tulis BeInCrypto.
Ethereum juga mendekati rekor harga baru, tetapi lonjakan Bitcoin menjadi yang paling dominan. Meski terdengar positif, sejumlah analis menilai situasi ini justru perlu diwaspadai.
Data terbaru menunjukkan investasi ke produk Bitcoin ETF dan kas digital perusahaan mencapai USD 1,3 miliar (sekitar Rp 21,6 triliun) hanya dalam sepekan. Angka itu belum termasuk pembelian besar dari raksasa seperti MicroStrategy dan Metaplanet.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa reli Bitcoin kali ini lebih didorong oleh modal korporasi, bukan partisipasi publik. Jika benar, ini bisa menandai perubahan besar dalam dinamika pasar kripto yang sebelumnya digerakkan oleh investor ritel.
Sejak Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menyetujui ETF Bitcoin pada 2024, banyak analis memprediksi arus modal institusional akan mengubah siklus harga kripto. Kini, dengan dua rekor tertinggi dalam dua hari berturut-turut tanpa euforia ritel, kekhawatiran itu semakin nyata.
BeInCrypto bahkan menyebut situasi ini sebagai “anomali pasar” yang bisa membuat prediksi harga di masa depan lebih sulit.
Apakah Bitcoin masih bisa dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi atau resesi? Apakah “musim dingin kripto” seperti di masa lalu masih akan terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu kini menggantung tanpa jawaban pasti.
Kenaikan Bitcoin ke Rp 2,09 miliar jelas menunjukkan kepercayaan besar dari investor institusional. Namun, absennya euforia dari investor ritel membuat reli kali ini terasa tidak biasa.
Jika benar bahwa “aturan lama” pasar kripto mulai bergeser, maka cara memahami dan memprediksi pergerakan Bitcoin ke depan mungkin harus berubah total. (*)