Kenaikan ini membuat pemilik emas batangan, terutama yang membeli sejak 2022, meraup cuan besar hingga jutaan rupiah per gram.
Harga emas Antam terus melesat dan menembus rekor baru setelah sebelumnya berada di level tertinggi Rp 2.284.000 per gram.
Kenaikan serupa juga terjadi pada harga buyback atau penjualan kembali yang naik Rp 12.000 menjadi Rp 2.144.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.132.000.
Artinya, masyarakat yang menjual emas batangan miliknya akan mendapatkan harga Rp 2.144.000 per gram.
Kenaikan tajam ini membawa keuntungan fantastis bagi pemilik emas lama. Misalnya, emas batangan 5 gram yang dibeli pada November 2022 seharga Rp 4.680.000 kini bisa dijual senilai Rp 10.720.000 (belum termasuk pajak).
Artinya, ada keuntungan lebih dari Rp 6 juta hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Secara global, harga emas dunia juga tengah melonjak. Mengutip Reuters, harga emas berjangka AS tembus USD 4.000 per ons, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Kenaikan ini dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve, meningkatnya permintaan aset safe haven, serta ketidakpastian politik dan ekonomi akibat penutupan pemerintahan AS.
Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 0,7 persen lebih tinggi di USD 4.004,4, sementara harga emas spot naik 0,6 persen menjadi USD 3.985,82 per troy ounce.
Reli emas sepanjang tahun ini telah mencapai kenaikan 51 persen, didorong oleh kombinasi faktor seperti pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia, arus dana ke ETF emas, serta pelemahan dolar AS.
Berikut rincian harga emas Antam di Butik Emas Logam Mulia (BELM) Setiabudi One, Jakarta Selatan, Rabu (8/10):
0,5 gram: Rp 1.198.000
1 gram: Rp 2.296.000
2 gram: Rp 4.536.000
3 gram: Rp 6.784.000
5 gram: Rp 11.284.000
10 gram: Rp 22.490.000
25 gram: Rp 56.062.500
50 gram: Rp 112.005.000
100 gram: Rp 223.890.000
250 gram: Rp 559.332.500
500 gram: Rp 1.118.375.000
1.000 gram: Rp 2.236.600.000
Dengan lonjakan harga ini, emas kian menunjukkan keperkasaannya sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak ekonomi global dan ketidakpastian suku bunga. (*)
Editor : Marthadi