Hal ini disampaikan oleh Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji.
“Dinamika perang tarif antara AS dan Tiongkok memasuki babak baru, sehingga hal ini akan menyebabkan terjadinya fluktuasi di pasar kita,” ujar Nafan kemarin (12/10).
Selain tensi dagang global, Nafan juga menyoroti data inflasi Amerika Serikat (US CPI) yang akan dirilis pertengahan bulan ini sebagai katalis penting yang dapat memengaruhi arah pasar.
“Biasanya US CPI akan menjadi perhatian pelaku pasar karena akan memberikan sinyal terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed,” katanya.
Meskipun demikian, lanjut Nafan, pasar tetap perlu mencermati arah komunikasi dari para pejabat The Fed, khususnya Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell.
“Powell sendiri lebih menekankan pada dinamika perkembangan inflasi, yang nantinya akan menentukan langkah kebijakan moneter The Fed berikutnya,” katanya.
Dia menambahkan, apabila rencana pemangkasan suku bunga pada Desember tertunda, keputusan tersebut kemungkinan akan digeser ke Januari tahun depan.
“Pasar akan cenderung bergerak dinamis mengikuti arah kebijakan global dan data ekonomi yang dirilis dalam waktu dekat,” tuturnya.
IHSG menutup perdagangan pekan kedua Oktober 2025 dengan kinerja impresif. Dalam periode 6–10 Oktober 2025, IHSG tercatat menguat 1,72 persen, mayoritas bergerak di zona hijau sepanjang pekan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada Jumat (10/10) ditutup pada level 8.257,8, naik dari posisi pekan sebelumnya di 8.118,3.
“Selain itu, IHSG pada penutupan akhir pekan lalu juga merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad.
Editor : Redaksi Lombok Post