Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) (BRI) juga melaporkan telah menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi kepada lebih dari 100 ribu nasabah.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, penyaluran KPR subsidi FLPP BTN telah mencapai 142.749 unit atau senilai Rp 17,66 triliun, dari total kuota sebesar Rp 26,40 triliun. Secara rinci, 99.441 unit disalurkan oleh konvensional dan sisanya 43.308 unit disalurkan oleh unit usaha syariah.
"Jumlah 140 ribu unit yang telah tersalurkan untuk KPR FLPP, artinya ada 140 ribu keluarga yang terbantu untuk dapat memiliki rumah impian," kata Nixon di Jakarta, Senin (20/10).
Kajian Housing Finance Center BTN menunjukkan bahwa mayoritas penerima KPR subsidi berasal dari generasi muda. Sekitar 88,43 persen penerima merupakan generasi milenial dengan rentang usia antara 29 hingga 44 tahun.
"Mereka akhirnya memiliki aset jangka panjang dan lebih baik dalam menata keuangan keluarga," imbuhnya.
BRI Salurkan ke 107 Ribu Nasabah
Di sisi lain, BRI telah menyalurkan KPR subsidi kepada 107.244 penerima manfaat dengan total outstanding Rp 14,65 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 97 persen berasal dari skema FLPP.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa penyaluran kredit selalu didasarkan pada assessment dan ketentuan yang harus dipenuhi.
"Bank memberikan kredit, tentunya ada assessment dan ketentuan yang ada harus dipenuhi. Atas dasar itu kita juga melihat realitanya seperti apa, dan kita tahu bahwa mana yang memang bisa, mana yang belum atau tidak bisa," ucap Hery.
Dari sisi pendanaan, Hery memastikan likuiditas BRI memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) di level 84,97 persen, menunjukkan ruang likuiditas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit. Tambahan dana Rp 55 triliun dari pemerintah turut memperkuat kemampuan perseroan menyalurkan pembiayaan hunian bersubsidi.
Meskipun demikian, Hery mengungkapkan tantangan besar dalam pembiayaan perumahan adalah tingginya backlog di segmen masyarakat menengah ke bawah yang mencapai sekitar 10 juta unit. Ia juga menyoroti minimnya pemahaman calon nasabah mengenai prosedur pengajuan dan akses pembiayaan.
"Kuncinya adalah sosialisasi dan kemudahan calon nasabah untuk melakukan pengajuan serta mendapatkan pembiayaan," pungkasnya.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post