Catatannya, batasan nominal pinjaman sebesar Rp25 juta dinilai belum cukup untuk menggenjot skala bisnis yang lebih besar.
“Anak-anak muda hari ini sudah mulai merambah, terjun di dunia usaha. Kami lihat juga sudah ada yang mulai ekspor,” beber anggota HIPMI Lotara Raden Prawangsa Jaya Ningrat.
Owner Kolanta Coffee ini menilai konsep dan ide bisnis anak muda di Lotara sangat melimpah.
“Namun rata-rata yang saya lihat masalah hari ini, ya modal sih, akses permodalan,” ujarnya
Ia pun mengapresiasi inisiatif Pemda Lotara bersama bank daerah yang menanggung bunga pinjaman UMKM.
“Saya kira itu lumayan menggenjot. Artinya kita hanya bayar pokoknya saja, kan,” sambungnya.
Namun batas pinjaman tertinggi hanya Rp 25 juta dinilai kurang relevan untuk mendorong pertumbuhan UMKM secara signifikan.
“Saya pikir hal ini di kemudian hari mungkin bisa ditingkatkan skala besaran pinjamannya. Jumlahnya bukan hanya Rp 25 juta,” tegasnya.
Menurutnya, jika melihat potensi UMKM hari ini, banyak sektor yang bisa dikembangkan.
UMKM tersebut memberikan dampak ekonomi yang lebih besar jika didukung oleh nominal modal yang memadai.
Raden menilai, dengan fokus pada pengusaha muda Lotara, akan tercipta dampak positif pada penciptaan lapangan kerja.
Para lulusan kuliah tidak hanya akan berpikir menjadi pegawai pemerintah.
“Kebetulan saya hari ini berada pada dunia perkopian, kopi di Lombok Utara sangat dipertimbangkan hari ini, secara kualitas sudah oke,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam