Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perhiasan Emas Penyumbang Inflasi Tertinggi di NTB

Geumerie Ayu • Selasa, 4 November 2025 | 21:37 WIB

PENYEBAB INFLASI: Warga yang tengah membeli emas di salah satu toko emas di Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
PENYEBAB INFLASI: Warga yang tengah membeli emas di salah satu toko emas di Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
LombokPost – Pergerakan harga emas yang terus meninggi menempatkan komoditas ini sebagai pemicu inflasi tertinggi di NTB pada Oktober 2025.

Ironisnya, di sisi lain NTB merupakan provinsi eksportir emas besar hasil olahan smelter.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin mengatakan, inflasi month-to-month (bulanan) NTB mencapai 0,35 persen.

Persentase ini berada di atas angka inflasi nasional 0,28 persen.

"Namun secara tahun kalender (year-to-date), kita masih di bawah nasional, yaitu 1,92 persen," ujarnya, Senin (3/11).

Secara tahunan (year-on-year), inflasi NTB tercatat 2,96 persen, sedikit di atas angka nasional sebesar 2,86 persen.

Angka ini masih berada dalam rentang target pengendalian inflasi pemerintah (2,5 ± 1 persen), yaitu antara 1,5 persen hingga 3,5 persen.

Dari sebelas kelompok pengeluaran yang dihitung, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil inflasi terbesar, yaitu 0,27 persen dari total 0,35 persen.

Kenaikan ini didorong hampir sepenuhnya oleh lonjakan harga emas perhiasan.

"Komoditas penyumbang inflasi terbesar pertama adalah emas perhiasan. Kenaikan ini mengikuti harga emas global. Meskipun NTB mengekspor emas, harga di daerah tetap mengikuti dinamika harga internasional," jelasnya.

Meski pun memiliki bobot terbesar dalam keranjang inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya menyumbang andil sebesar 0,06 persen.

Hal ini disebabkan fluktuasi pada beberapa komoditas.

Wahyudin melanjutkan, lima komoditas utama penyumbang inflasi (andil terbesar) di antaranya emas perhiasan 0,27 persen.

Diikuti cabai merah, ikan layang, ikan benggol, dan udang basah.

Sementara itu, beberapa komoditas justru bertindak sebagai penahan deflasi (penyumbang penurunan harga).

Di antaranya angkutan udara minus 0,04 persen. Diikuti pisang, daging ayam ras, tomat dan kol putih.

BPS mengingatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB untuk terus berhati-hati terhadap potensi kenaikan inflasi.

Hal itu mengingat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang akan datang Desember nanti.

"Kita harus waspada. Jangan sampai inflasi di akhir tahun nanti melampaui batas atas target 3,5 persen. Pengendalian inflasi ini penting agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah," tandasnya.

Nuraini, penjaga toko emas di Cakranegara, Kota Mataram mengatakan, permintaan emas melonjak tajam seja usai perayaan Idulfitri 2025.

Pembelinya mayoritas masyarakat lokal, namun ada juga beberapa yang berasal dari luar daerah. 

“Sejak setelah Idulfitri, transaksi di toko kami sangat ramai, peningkatannya sekitar 20 hingga 25 persen dari hari biasa,” ujarnya.

 

Nuraini menjelaskan, permintaan tertinggi saat ini datang untuk emas batangan, baik dari merek Antam maupun merek lokal lainnya.

Sementara itu, untuk perhiasan emas, permintaan tetap ada meski pun sangat bergantung pada preferensi dan selera masing-masing konsumen.

“Emas murni yang banyak dicari, kalau perhiasan emas lumayan,” pungkasnya.

 

Editor : Siti Aeny Maryam
#EMAS #Inflasi #tertinggi #penyumbang inflasi #NTB