Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nilai Tukar Rupiah Terombang-ambing, Sentimen The Fed dan Government Shutdown Jadi Penentu

Redaksi Lombok Post • Jumat, 14 November 2025 | 22:42 WIB

Penguatan rupiah ini sejalan dengan sentimen positif dari pasar global. (istimewa)
Penguatan rupiah ini sejalan dengan sentimen positif dari pasar global. (istimewa)
LombokPost -- Setelah sempat ditutup melemah 11 poin pada Kamis (13/11) di level Rp 16.728 per dollar Amerika Serikat (USD), nilai tukar rupiah terpantau menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (14/11).

Di pasar spot, rupiah tercatat menguat 13 poin atau 0,08 persen ke level Rp 16.715 per USD. Meskipun demikian, pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian kebijakan suku bunga dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

"Rupiah pada perdagangan hari ini memang dipengaruhi ketidakpastian penurunan bunga The Fed," ujarnya.

Baca Juga: Kasus Korupsi Rehab Sekolah Miliar Rupiah: Jaksa Kantongi Calon Tersangka Baru, Total Loss Proyek Rp 4,4 M?

Rully menilai, belum dirilisnya sejumlah data ekonomi penting AS akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) membuat panduan bagi The Fed menjadi kabur.

Kondisi ini memperbesar kemungkinan bank sentral AS menunda penurunan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Desember mendatang.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menyoroti sinyal kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan belum akan mengubah suku bunga acuannya.

"Ruang penurunan bunga sangat terbatas seiring dengan laju inflasi yang mulai meningkat. BI mungkin akan menetapkan bunga acuan tidak berubah 4,75 persen di RDG minggu depan," urai Rully.

Senada, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah optimisme global terhadap potensi berakhirnya penutupan pemerintahan AS.

Meskipun ada sinyal positif, Josua menilai ketidakpastian ekonomi tetap tinggi karena sejumlah indikator penting, seperti data inflasi dan pengangguran Oktober 2025, berpotensi tidak akan dipublikasikan.

Baca Juga: Redenominasi Rupiah: Sederhana Jadi Rp 1.000 ke Rp 1, Tapi Kenapa Emak-Emak Harus Waspada?

"Tidak adanya data ekonomi utama dapat mempersulit keputusan kebijakan Fed dalam pertemuan FOMC Desember 2025," tegasnya.

Menurut Josua, pelaku pasar kini menunggu pernyataan resmi The Fed untuk mendapatkan arah yang lebih jelas mengenai kebijakan suku bunga ke depan. Hingga ketidakpastian tersebut mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak terbatas sejalan dengan tren penguatan USD di pasar global.(*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#dollar #nilai tukar #kurs #amerika #rupiah #the fed