Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kemenperin Dorong Pembangunan Fasilitas Baru di Tengah Defisit Bahan Baku Kimia

Redaksi Lombok Post • Minggu, 16 November 2025 | 21:57 WIB

Smelter: Inilah kompleks industri smelter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Pabrik di atas lahan seluas 272 hektare itu saat ini masih dalam tahap komisioning sebelum nanti operasional.
Smelter: Inilah kompleks industri smelter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Pabrik di atas lahan seluas 272 hektare itu saat ini masih dalam tahap komisioning sebelum nanti operasional.
LombokPost -- Pesatnya perkembangan industri hilir di Indonesia tidak diimbangi oleh kapasitas produksi dari sektor hulu, khususnya industri petrokimia. Kesenjangan ini memaksa pemenuhan kebutuhan bahan baku dilakukan melalui impor, yang berpotasi mengancam kemandirian ekonomi nasional.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Wiwik Pudjiastuti, menyatakan bahwa industri petrokimia memegang peranan strategis sebagai pemasok bahan baku utama bagi plastik, serat sintetis, karet sintetis, bahan kimia fungsional, serta komponen esensial bagi industri tekstil dan farmasi.

”Kebutuhan industri petrokimia nasional terus meningkat pesat, namun kapasitas produksi dalam negeri belum mampu mengimbanginya. Ini menyebabkan ketergantungan yang sangat besar terhadap impor,” ujarnya di Sentul, Bogor, pada Sabtu lalu (15/11).

Ia menyebutkan bahwa sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,92 persen pada Triwulan III 2025, bahkan subsektor kimia dan farmasi mencatat kenaikan signifikan sebesar 11,65 persen.

Baca Juga: IPOC 2025 Pecahkan Rekor Peserta, Pelaku Industri Sawit Dunia Kumpul di Bali

 Meskipun tren positif terlihat, kesenjangan pasokan bahan baku masih menjadi tantangan utama. Pada produk olefin seperti etilen, defisit pasokan mencapai 800 ribu ton, meski tingkat utilitas pabrik telah mencapai 75 persen.

Keterbatasan serupa terjadi pada produk aromatik, khususnya p-xylene, dengan kesenjangan sekitar 500 ribu ton. Kedua bahan baku ini sangat krusial bagi industri poliester dan PET.

Defisit terbesar terlihat pada Mono Ethylene Glycol (MEG), yang mencatat kesenjangan 400 ribu ton, sementara pasokan polimer domestik hanya sanggup memenuhi sekitar separuh dari kebutuhan plastik nasional.

”Selama gap supply-demand masih selebar ini, kita tidak punya pilihan selain mengimpor. Namun ke depan, kondisi ini harus ditekan melalui pembangunan kapasitas baru dan integrasi industri dari hulu ke hilir,” tegas Wiwik.

Produk petrokimia domestik juga menghadapi tekanan harga dari negara-negara pesaing, terutama setelah implementasi perjanjian dagang seperti UAE–Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Baca Juga: Kemurnian Ganda, Kepercayaan Mendunia: Pipa PPR RIIFO Jadi Standar Baru Industri dengan Sertifikasi Halal dan NSF 51

Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) mencatat bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Indonesia mengalami defisit yang terus membesar pada komoditas petrokimia, meningkat dari 7,32 juta ton pada 2020 menjadi 10,5 juta ton pada 2024, dengan nilai mencapai USD 11 miliar. Sekretaris Jenderal INAPLAS, Fajar Budiono, menegaskan adanya ketidakseimbangan antara pesatnya pertumbuhan industri hilir dan kapasitas produksi sektor hulu.

”Kondisi defisit yang kita hadapi setiap tahun menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap impor sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Industri hilir kita tumbuh pesat, sementara kapasitas hulu belum mengikuti,” ujarnya.

Menurut Fajar, integrasi antara unit kilang minyak (refinery) dan petrokimia akan memberikan manfaat besar bagi negara, termasuk penurunan biaya logistik, peningkatan daya saing produk, dan pengurangan devisa impor yang membebani neraca perdagangan. ”Kalau kita ingin menjadi negara industri maju pada 2045, kita tidak punya pilihan selain membangun industri petrokimia yang kuat, terintegrasi, dan mandiri,” tutupnya.(*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#industri #kimia #kemenperin #bahan baku #impor