Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Daging Ayam Berpotensi Sebabkan Lonjakan Inflasi Akhir Tahun

Geumerie Ayu • Rabu, 10 Desember 2025 | 01:00 WIB

SEBABKAN LONJAKAN INFLASI: Salah satu pedagang daging ayam di pasar di Mataram, beberapa waktu lalu.
SEBABKAN LONJAKAN INFLASI: Salah satu pedagang daging ayam di pasar di Mataram, beberapa waktu lalu.
LombokPost – Harga daging ayam di NTB belum menunjukkan tanda penurunan harga sejak tiga bulan belakangan. Bahkan menjelang Natal daan Tahun Baru (Nataru), harga daging ayam cenderung naik secara perlahan.

“Harganya sekarang Rp 42 ribu per kilo, masih belum turun karena stoknya tidak banyak, apalagi sebentar lagi mau tahun baru,” ujar Zaenab, penjual daging ayam di Pasar Induk Mandalika Mataram.

Kenaikan harga daging ayam yang signifikan ini tentu saja berpotensi menyebabkan lonjakan inflasi di akhir tahun.

Berdasarkan data BPS, NTB mencatatkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi secara nasional, pada minggu pertama Desember 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyampaikan, NTB mengalami lonjakan IPH sebesar 6,12 persen.

Lonjakan ini akibat kenaikan harga komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah.

“Secara umum, hampir semua provinsi mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dibandingkan minggu keempat November,” ujar Pudji dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara hybrid, Senin (8/12).

Pudji menyebut, ada dua daerah di NTB masuk dalam 10 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH tertinggi di Indonesia, Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah. 

Komoditas mengalami kenaikan harga pada dua daerah tersebut adalah cabai merah, bawang merah, daging sapi, dan daging ayam ras. Selain itu, IPH komoditas beras di NTB juga masuk ke dalam daftar lima besar kenaikan nasional.

Kembali ke harga daging ayam yang tak kunjung turun selama berbulan-bulan. Diperkirakan merupakan kombinasi peningkatan permintaan yang masif, dan masalah pasokan menjadi akar penyebab.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Mataram Sri Wahyunida menyebutkan, harga daging ayam hasil survei timnya berkisar Rp 40-45 ribu per kilogram. Angka ini jauh meninggalkan harga normal Rp 28-35 ribu per kilogram.

Salah satu penyebab utamanya adalah permintaan di lapangan sedang tinggi. Faktor kunci yang mendorong lonjakan permintaan adalah kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nida lantas membeberkan data yang mengejutkan dari dapur MBG. Satu dapur SPPG membutuhkan 380 kilogram daging ayam dalam sehari. Maka per pekan kebutuhannya bisa mencapai lebih dari 1 ton.

"Kami tidak menyalahkan programnya, kami hanya mengantisipasi bagaimana ketersediaan pasokan dan mencari celah, bagaimana supaya pasokan kami ini tetap tersedia," tegas Nida.

Selain permintaan tinggi, harga ayam juga terus meningkat akibat hasil panen ayam siap potong yang menurun dan adanya pengurangan pasokan Day Old Chicks (DOC) dari pusat.

Kondisi ini membuat harga daging ayam di tingkat pengepul sudah berada di kisaran Rp 36-37 ribu per kilogram.

Disdag juga mencatat kenaikan harga pada sejumlah bahan pokok (bapok) lain akibat faktor cuaca menjelang Nataru. Cabai rawit Rp 55 ribu per kilogram, cabai merah besar Rp 55 ribu, dan bawang merah Rp 50 ribu.

Editor : Redaksi Lombok Post
#Inflasi #Nataru #NTB #daging ayam