Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tembus Bangladesh, Al Amin Ubah Wajah Industri Kelapa Kabupaten Lombok Utara

Geumerie Ayu • Sabtu, 10 Januari 2026 | 13:39 WIB

TINJAU PRODUKSI: Proses produksi VCO dan minyak kelapa goreng di sentra IKM Al Amin, Pemenang, KLU, beberapa waktu lalu.
TINJAU PRODUKSI: Proses produksi VCO dan minyak kelapa goreng di sentra IKM Al Amin, Pemenang, KLU, beberapa waktu lalu.
LombokPost – Potensi pohon kelapa begitu besar di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Di tangan Zulhadi, pemilik IKM Al Amin, komoditas lokal ini berhasil dibuat menembus pasar internasional.

Produk Virgin Coconut Oil (VCO) miliknya di bawah binaan BI NTB sudah melakukan ekspor ke negara Bangladesh beberapa waktu lalu. Volume ekspor awal yang lolos kurasi berkisar 50-60 liter untuk kebutuhan medis.

Keberhasilan ini tentu tidak datang begitu saja. Zulhadi, mantan Tim Penyuluh Lapangan (TPL) Kementerian Perindustrian ini sangat menyadari kelemahan utama industri lokal bukan pada bahan baku.

"Saya melihat kelemahan ada di manajemen. Maka saya inisiasi membentuk IKM dengan mengumpulkan petani kelapa binaan. Saya atur ulang manajemennya dari hulu ke hilir, " jelasnya.

Salah satu kunci sukses tembusnya VCO Al Amin ke pasar ekspor adalah efisiensi produksi. Sebelumnya, harga VCO sulit bersaing karena menyentuh angka Rp 70-80 ribu.

Namun, melalui riset produksi, Zulhadi berhasil memangkas proses. Dari delapan mesin yang biasa digunakan, kini cukup tiga mesin tanpa mengurangi kualitas.

Hasilnya, harga VCO mampu ditekan hingga Rp 30 ribu untuk pasar ekspor, sebuah angka yang sangat kompetitif namun tetap memberikan margin keuntungan.

Zulhadi memulai langkah usahanya pada 2015, didorong keinginan melanjutkan usaha orang tuanya yang dulu merupakan produsen kopra.

Pada 2020, ia memutuskan mundur dari tugas dinas sebagai penyuluh untuk fokus 100 persen mengembangkan IKM Al Amin.

Kini, ia telah membina 10 kelompok tani dengan total 147 anggota. Ekosistem ini dirancang agar semua pihak terlibat, mulai dari pemilik pohon, buruh petik, pengepul, hingga produsen.

"Goal kami adalah menjadikan olahan kelapa ini sebagai usaha rakyat. Kami ingin ibu-ibu yang punya pohon kelapa hingga pengepul menjadi satu ekosistem yang saling menguntungkan," jelasnya.

Dalam kondisi normal, IKM Al Amin memproduksi 2.000 hingga 3.000 liter minyak kelapa per bulan.

Namun, saat permintaan tinggi, seperti saat program JPS NTB Gemilang 2021, mereka mampu memasok hingga 21.000 botol per bulan dengan kapasitas maksimal mencapai 50.000 liter.

Selain VCO, IKM Al Amin dikenal dengan produk minyak goreng kelapanya. Zulhadi mengingatkan, banyak riset menyebut minyak kelapa jauh lebih hemat dan sehat dibandingkan minyak sawit.

“Karena minyak kelapa bisa digunakan hingga tujuh kali penggorengan,” ujarnya.

IKM Al Amin menerapkan prinsip zero waste. Tidak ada bagian kelapa yang terbuang.

Selain minyak dan VCO, mereka juga memproduksi sabun mandi dari turunan kelapa, arang dari tempurung, hingga maggot yang memanfaatkan limbah organik kelapa.

Editor : Kimda Farida
#virgin coconut oil (VCO) #Kabupaten Lombok Utara #bangladesh #IKM Al Amin #ekspor #industri kelapa