Ketua Asosiasi Masyarakat Pedagang Emas Sekarbela (Ampera) Iskandar menyebut, tren kenaikan harga emas merupakan refleksi dari perubahan cara berpikir masyarakat dan negara dalam melindungi aset.
Dia meyakini emas tetap menjadi instrumen investasi paling aman dibandingkan aset lain, seperti saham maupun kripto.
Emas memiliki keunggulan karena dapat dikuasai secara fisik dan memiliki acuan harga global yang transparan.
“Kalau saham atau kripto, itu sistemnya bisa terganggu. Kalau emas, kita pegang barangnya langsung, harganya jelas dan bisa di cek secara internasional,” kata Iskandar, Senin (12/1).
Ia menjelaskan, lonjakan harga emas tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah ketegangan geopolitik dunia.
“Emas itu cadangan negara. Ketika ada gejolak global, negara-negara akan mengamankan asetnya ke emas. Itu yang membuat harganya terus terdorong naik,” ujarnya.
Kenaikan harga emas saat ini diakuinya tergolong ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Jika dulu banyak masyarakat menunggu harga turun, kini tren tersebut mulai ditinggalkan. “Dulu orang selalu bilang tunggu besok turun. Tapi faktanya, besok malah lebih mahal,” katanya.
Iskandar memperkirakan harga emas masih akan terus meningkat. “Pasti naik, hanya soal waktu. Biasanya akhir tahun ada koreksi, lalu menjelang Ramadhan naik lagi,” ujarnya.
Untuk investasi, Iskandar menyarankan masyarakat lebih memilih emas batangan dibandingkan perhiasan.
Menurutnya, emas batangan memiliki biaya tambahan yang lebih rendah, sehingga lebih efisien sebagai aset investasi jangka panjang.
“Kalau murni investasi, emas batangan lebih tepat. Perhiasan itu ada biaya desain dan pengerjaan,” katanya.
Meski demikian, Iskandar mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap maraknya spekulan dan penjual emas yang tidak jelas asal-usul produknya.
Ia meminta masyarakat hanya membeli emas dari toko terpercaya. “Masyarakat harus hati-hati, jangan tergiur harga murah,” tegasnya.
Di Mataram, meski daya beli perhiasan menurun, permintaan emas batangan justru meningkat. Penjualan di sentra emas seperti Cakranegara dan Ampenan masih terpantau cukup baik.
Iskandar juga mencatat adanya kenaikan signifikan pada harga mutiara dalam dua tahun terakhir. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar internasional, khususnya untuk kebutuhan pernikahan di luar negeri.
“Harga mutiara juga naik tajam. Yang dulu ratusan ribu, sekarang bisa tembus ratusan ribu hingga jutaan,” pungkasnya.
Editor : Jelo Sangaji