LombokPost – Menghadapi dinamika global yang fluktuatif, Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB mulai mengalihkan radar bidikannya ke pasar potensial baru. Dua di antaranya adalah Arab Saudi dan India.
Ketua DPD Astindo NTB Sahlan M Saleh mengatakan, di mata pasar Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, NTB memiliki daya pikat yang luar biasa.
Pariwisata NTB yang berbasis halal tourism dan nature sangat cocok. Untuk menggarap pasar ini, pihaknya kini kian intens memperluas jejaring dengan mitra strategis di kawasan teluk.
“Kami ingin mendorong lebih banyak kunjungan dari Saudi. Kerja sama dengan mitra di sana terus kita perkuat. Kami juga aktif berpartisipasi dalam bursa pariwisata internasional, seperti Arabian Travel Market di Riyadh,” ujar Sahlan.
Pihaknya juga mulai melirik India. Sahlan menilai, segmen menengah ke atas di India memiliki minat besar terhadap destinasi eksotis seperti Lombok dan Sumbawa.
Meski saat ini penetrasinya masih terbatas, ia optimis pasar India akan menjadi tulang punggung pariwisata NTB di masa depan.
Sektor pariwisata memang dikenal sensitif terhadap isu geopolitik dan fluktuasi nilai tukar Rupiah. Namun, bagi Sahlan, ketangguhan sebuah destinasi justru diuji saat kondisi global tidak menentu.
Salah satu jurus yang disiapkan adalah strategi early sales atau penjualan lebih awal. Paket-paket wisata unggulan, termasuk gelaran bergengsi MotoGP Mandalika, mulai dipasarkan sejak dini dengan skema harga khusus.
“Dengan early sales, kita mengunci minat wisatawan lebih awal sehingga tidak terlalu terdampak isu global yang berkembang mendadak,” jelas pria yang juga ketua BPPD NTB ini.
Catatan gemilang di tahun 2025 menjadi modal berharga. Sepanjang tahun lalu, Astindo NTB berhasil mendatangkan sekitar 6.200 wisatawan melalui jaringan agen perjalanannya.
Menariknya, komposisi tamu didominasi oleh wisman sebesar 60 persen, yang mayoritas berasal dari Eropa.
“Tahun lalu kita bahkan kedatangan charter flight dari Slovakia yang membawa tamu-tamu high-end. Ini membuktikan NTB punya daya tarik bagi pasar kelas atas,” imbuhnya.
Memasuki kalender 2026, Astindo NTB mematok target ambisius namun realistis, yakni 10 ribu kunjungan wisatawan. Rasio kunjungan diprediksi tetap stabil di angka 60 persen mancanegara dan 40 persen domestik.
Untuk mencapai angka tersebut, berbagai event penunjang seperti fun run hingga inovasi produk wisata terus digenjot.
Sahlan menekankan pentingnya kreativitas dan adaptabilitas pelaku industri. Berkaca pada pengalaman bertahan saat pandemi Covid-19 lalu.
“Dalam kondisi sulit, inovasi adalah kunci. Kami optimis, dengan kolaborasi internasional yang kuat dan pemasaran yang agresif, pariwisata NTB akan tetap tumbuh kompetitif,” tandasnya.
Wakil Ketua BPPD NTB Dewantoro Umbu Joka, bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB mendampingi inspeksi lapangan agen tour and travel besar asal Guangzhou, China, ke sejumlah destinasi unggulan di Lombok.
Dikatakannya, kerja sama ini menjadi peluang besar dalam mendatangkan wisatawan berkualitas. Sekaligus meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan asing di NTB.
Ke depan, hasil inspeksi ini diharapkan membuka peluang lebih besar bagi kunjungan wisatawan China ke Lombok, khususnya segmen menengah ke atas.
“Kita berharap dan berdoa agar tidak ada kendala dalam realisasinya,” pungkas ketua Asita NTB ini.
Editor : Pujo Nugroho