LombokPost – Setelah mencetak rekor gila-gilaan di level Rp 2.880.000 per gram pada 23 Januari 2026, pertanyaan besar kini menghantui investor: Kapan harga emas akan turun?
Meski analis Goldman Sachs dan JP Morgan memproyeksikan tren bullish (naik) akibat aksi borong bank sentral dunia, pasar emas tidak pernah bergerak lurus ke atas tanpa henti.
Mencari Celah di Tengah Tren Kenaikan
Sejarah mencatat bahwa emas selalu memiliki fase konsolidasi atau koreksi teknis. Harga emas tetap bisa turun pada momen tertentu.
Aksi Profit Taking: Investor besar mulai menjual aset untuk mencairkan keuntungan setelah harga melambung tinggi.
Pengalihan Aset: Pasar beralih fokus ke instrumen lain yang dianggap memberi return lebih cepat saat kondisi ekonomi stabil sejenak.
Sentimen Global: Adanya rilis data ekonomi positif dari negara adidaya yang memperkuat nilai mata uang mereka terhadap emas.
Strategi "Buy on Weakness": Cara Cuan Maksimal
Waktu terbaik untuk masuk bukanlah saat harga sedang berada di puncak (ATH), melainkan saat grafik menunjukkan tren penurunan konsisten.
Membeli saat harga terkoreksi memberikan potensi keuntungan lebih besar ketika harga kembali melesat naik.
Menyarankan masyarakat untuk rutin memantau grafik harian melalui aplikasi seperti Tring! by Pegadaian, situs resmi Logam Mulia, atau situs Galeria24.
Dengan memantau pola pergerakan secara berkala, masyarakat tidak hanya sekadar menebak, tapi memiliki strategi yang terukur untuk memanfaatkan setiap penurunan harga sebagai peluang emas.
Editor : Kimda Farida