Program ini menjadi pendorong stabilnya penyerapan produksi telur lokal. Sekaligus memicu gelombang investasi baru di kalangan peternak unggas NTB.
Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat (Petarung) NTB Ervin Tanaka mengatakan, sejak MBG bergulir, gejolak pasar yang biasanya menghantui peternak mulai mereda. Permintaan yang konsisten membuat rantai pasok menjadi lebih sehat dan terukur.
“Manfaat MBG ke peternak lokal jelas dirasakan. Penyerapan telur sekarang jauh lebih stabil, tidak lagi bergejolak seperti sebelumnya,” ujar Ervin Tanaka di Mataram.
Meski sebagian besar peternak belum menyuplai langsung ke pengelola pusat MBG, namun efek domino tetap terasa melalui mitra atau pihak ketiga.
Para mitra ini kini meningkatkan volume pengambilan telur hingga berkali-kali lipat untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
Menariknya, lonjakan permintaan ini tidak membuat harga telur liar. Saat ini, harga di tingkat peternak tetap anteng di kisaran Rp 50.000 hingga Rp 52.000 per tray untuk ukuran sedang.
"Harganya cenderung stabil karena memang sudah ada pengaturan pemerintah terkait harga acuan," sambungnya.
Data Petarung NTB mencatat produksi telur dari 46 hingga 50 peternak lokal saat ini menembus angka 700-800 ribu butir per hari. Meski angka tersebut cukup besar, seluruhnya habis terserap pasar lokal.
Keyakinan akan prospek cerah ini mendorong peternak untuk berani berekspansi. Sejak akhir tahun kemarin sudah terasa. Banyak peternak mulai menambah populasi.
“Bahkan muncul peternak-peternak baru yang mulai melirik bisnis ini," ungkapnya optimis.
Pemerintah NTB pun tak tinggal diam menangkap peluang ini. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB menjadikan ternak unggas sebagai instrumen utama untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi menjelaskan, pihaknya telah menjalankan pilot project beternak puyuh di Desa Beriri Jarak, Lombok Timur.
Dengan modal 3.990 ekor puyuh, satu kelompok tani ternak mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp 8,5 juta per bulan.
Pola kemitraannya dirancang agar dalam 20 bulan, setiap anggota kelompok punya 1.000 ekor puyuh produktif secara mandiri.
“Kalau sudah punya penghasilan tetap dari sini, artinya mereka sudah keluar dari jerat miskin ekstrem,” jelas Riadi.
Tak hanya puyuh, Pemprov NTB juga menyiapkan program ayam petelur (layer) yang menyasar langsung rumah tangga miskin. Skemanya, setiap KK diberikan 100 ekor ayam yang bisa dipelihara dengan sarana sederhana di sekitar rumah.
“Masyarakat fokus merawat, nanti ada mitra (induk semang) yang mengelola hasilnya,” katanya.
Program ini menargetkan pendapatan tambahan masyarakat miskin ekstrem sekitar Rp 2-3 juta per bulan.
“Jika berkembang, kita hubungkan dengan akses KUR agar usaha mereka lebih mandiri dan luas,” pungkas Riadi.
Editor : Kimda Farida