Toko ini bernama Mataram Gundam. Bagi para pengunjungnya, tempat ini bukan sekadar toko mainan. Toko ini merupakan mesin waktu yang mewujudkan mimpi masa kecil yang sempat tertunda.
Ivan Prima Nugraha, sosok di balik toko Mataram Gundam. Memulai langkah sejak 2017, bisnis ini lahir tanpa rencana muluk.
Ivan awalnya hanya melihat celah pasar dari banyaknya rekan komunitas yang kerap menitipkan pembelian koleksi dari luar daerah.
Siapa sangka, aktivitas titip beli itu berevolusi menjadi usaha rumahan produktif dengan basis pelanggan yang loyal.
Keunikan Mataram Gundam terletak pada segmentasi pasarnya. Ivan mengusung tagline menggelitik, ”Mainan bapak yang ngakunya untuk anak”.
Kalimat ini bukan sekadar banyolan, melainkan potret nyata perilaku konsumen di tokonya.
"Banyak orang dewasa datang membawa anak, tapi sebenarnya mereka sendiri yang ingin menghidupkan hobi lamanya. Ada rasa nostalgia yang membuat mereka membeli secara spontan," beber Ivan.
Dari sisi bisnis, replika Gundam menjadi top seller yang konsisten mendominasi penjualan. Dalam sebulan, toko ini mampu meraup omzet kotor di kisaran Rp 5-10 juta.
Angka yang cukup menjanjikan untuk kategori usaha berbasis hobi di lingkup lokal.
Meski skala usahanya terlihat sederhana, dampak sosial ekonomi yang dihasilkan cukup signifikan. Hobi merakit model kit (Gunpla) ternyata menjadi instrumen perubahan gaya hidup bagi pelanggannya.
Beberapa pelanggan mengaku mulai mengurangi kebiasaan merokok demi menabung untuk koleksi terbaru.
Para orang tua memanfaatkan proses merakit yang presisi sebagai sarana melatih kesabaran anak, dan mengalihkan ketergantungan terhadap gadget.
"Nilai utama dari usaha ini bukan semata angka penjualan, melainkan kesempatan menghadirkan kebahagiaan melalui kenangan," tambah Ivan.
Bagi konsumen, setiap rakitan Gundam adalah simbol pencapaian pribadi. Dulu, barang-barang ini hanyalah impian di layar kaca yang sulit terjangkau.
Kini, memiliki satu per satu koleksi tersebut adalah bentuk self reward atau apresiasi diri atas kerja keras di masa dewasa.
Editor : Kimda Farida