Ini menjadi upaya stabilisasi harga, terlebih cabai rawit di pasar tradisional saat ini masih mahal.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB Hario K Pamungkas menegaskan, cabai rawit merupakan salah satu komoditas yang paling krusial yang memengaruhi angka inflasi di NTB.
Tekanan harga saat hari besar keagamaan sering terjadi akibat ketidakselarasan waktu panen antarwilayah, serta melonjaknya kebutuhan masyarakat.
"Kesinambungan produksi dan kelancaran distribusi adalah kunci utama," ujar Hario, Sabtu (28/2).
Panen raya kali ini menyasar lahan seluas 5,5 hektare dari total 40 hektare yang dikelola Kelompok Tani (Poktan) Beriuk Geger.
“Produktivitas mereka rata-rata 2–3 ton per hektare,” sambungnya.
Selain panen raya, Bank Indonesia juga memberikan bantuan sarana dan prasarana (sapras) pertanian kepada Poktan Beriuk Geger.
Harapannya, bantuan ini mampu memacu semangat petani meningkatkan produktivitas.
“Bantuan ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan pertanian di Lombok Utara,” tandasnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Lombok Utara Tresnahadi memastikan terus memberikan dukungan penuh.
"Kami berkomitmen memperkuat sektor hortikultura lewat pemberian bibit unggul, pendampingan teknis, hingga penguatan sarana produksi," jelasnya.
Baca Juga: Drakor Phantom Lawyer Tayang 13 Maret 2026, Intip Kolaborasi Emosional Yoo Yeon Seok dan Esom
Hasil panen dari Poktan Beriuk Geger ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Lombok Utara.
Lebih dari itu, pasokan ini disiapkan sebagai penyangga untuk wilayah lain di NTB yang mengalami tekanan harga.
Ke depan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB akan terus mempererat koordinasi.
Skema pemenuhan pasokan, baik dari dalam maupun luar daerah, akan terus dimatangkan agar volatilitas harga pangan tetap dalam batas yang terkendali sepanjang Ramadan hingga Lebaran nanti.
Editor : Kimda Farida