LombokPost – Provinsi NTB melakukan pengiriman ribuan ton beras ke Bali dan NTT. Hal ini dikarenakan stok beras di gudang Bulog sedang dalam kondisi melimpah.
Selain itu, ini menjadi upaya untuk menjaga keseimbangan pasar sekaligus mengantisipasi lonjakan produksi saat panen raya.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB Mara Kamin Siregar mengatakan, pengiriman ini juga merupakan upaya untuk menjaga stabilisasi harga dan stok daerah tujuan.
Hingga awal Maret 2026, tercatat 6.073 ribu ton beras dikirimkan NTB ke daerah lain.
“Kami mengatur strategi distribusi melalui movenas ke wilayah yang membutuhkan, yaitu Bali dan NTT. Ini bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendukung ketahanan pangan nasional,” ujar Regar, sapaan akrabnya, Kamis (5/3).
Berdasarkan data per 3 Maret 2026, sepanjang 2025 realisasi pengiriman ke luar daerah untuk beras mencapai 30.303 ton.
Sementara untuk jagung menembus 23.596 ton. Sedangkan untuk 2026 hingga pekan pertama Maret, pengiriman beras telah mencapai 6.073 ribu ton.
Bali dan NTT menjadi dua wilayah utama tujuan distribusi. Keduanya selama ini kerap bergantung pada suplai dari NTB yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Distribusi ini dinilai strategis untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengganggu ketersediaan stok di NTB.
Regar menjelaskan, kebijakan movenas juga berkaitan erat dengan kesiapan menghadapi musim panen raya. Pada periode tersebut, volume gabah dan beras di tingkat petani biasanya meningkat signifikan.
Tanpa pengaturan distribusi yang terukur, kapasitas gudang berpotensi penuh sehingga menghambat penyerapan hasil panen.
“Kami ingin memastikan penyerapan hasil panen petani di NTB tetap optimal. Karena itu, distribusi keluar daerah menjadi salah satu solusi agar stok di gudang tetap terkendali dan tidak menumpuk,” jelasnya.
Menurutnya, strategi ini bukan sekadar memindahkan stok, tetapi juga menjaga keseimbangan pasar.
Ketika stok di satu wilayah berlebih sementara daerah lain mengalami kekurangan, distribusi antarwilayah menjadi instrumen penting untuk meredam potensi gejolak harga.
Bulog NTB menegaskan, stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen menjadi perhatian utama.
Penyerapan gabah yang optimal diharapkan dapat menjaga harga di tingkat petani tetap wajar. Sementara pasokan yang cukup di daerah tujuan membantu menekan risiko lonjakan harga di tingkat konsumen.
Selain itu, koordinasi dengan kantor pusat dan wilayah penerima terus diperkuat guna memastikan pengiriman berjalan sesuai kebutuhan dan jadwal.
Proses distribusi dilakukan secara terencana agar tidak mengganggu cadangan beras pemerintah di daerah.
“Koordinasi intensif terus kami lakukan agar pengiriman tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Dengan strategi ini, kami optimistis ketahanan pangan regional tetap terjaga,” katanya.
Di tengah dinamika permintaan antarwilayah dan potensi peningkatan produksi saat panen, kebijakan movenas menjadi instrumen pengendali pasokan yang krusial.
Bulog NTB memastikan ruang penyimpanan tetap tersedia untuk menyerap hasil petani, sekaligus menjaga distribusi pangan tetap lancar.
Editor : Pujo Nugroho