Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Produk Ikan Bage Sumbawa Merambah Pasar Asia

Geumerie Ayu • Rabu, 15 April 2026 | 08:37 WIB
PROSES PRODUKSI: Proses produksi ikan bage di Bale Seafood Sumbawa, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)PROSES PRODUKSI: Proses produksi ikan bage di Bale Seafood Sumbawa, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost - IKAN bage merupakan kuliner olahan khas Sumbawa yang dikenal dengan rasa gurihnya yang ikonik.

Kuliner ini merupakan ikan yang dikeringkan setelah dilumuri garam dan asam jawa kental.

Di tangan Fitriani, owner UMKM Bale Seafood Sumbawa, produk tradisional ini bertransformasi menjadi komoditas ekspor. Ikan bage dikirim hingga Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Baca Juga: UMKM Tertekan, Awas Efek Domino

Fitriani berasal dari Labuan Jontal, Kecamatan Plampang, namun kini menetap di Kebayan, Kelurahan Uma Sima, Sumbawa.

Dirinya sukses mengubah tantangan logistik ikan segar menjadi peluang bisnis olahan yang menjanjikan sejak tahun 2021.

Lahir dari keluarga penjual ikan, Fitriani menyadari menjual ikan segar memiliki risiko kerusakan yang tinggi dan nilai jual yang rendah.

Baca Juga: Integrasi Instagram & WhatsApp: Solusi Omnichannel untuk Tim UMKM

Setelah pindah ke Sumbawa bersama suaminya, ia mulai memutar otak untuk meningkatkan nilai tambah hasil laut.

"Menjual ikan segar langsung ke pasar harganya terlalu murah dan risikonya besar jika tidak ada penyimpanan memadai. Akhirnya kami beralih ke produk olahan ikan kering (ikan bage) yang lebih stabil, tahan lama, dan memiliki harga jual lebih tinggi," bebernya.

Melalui rumah produksi Bale Seafood, Fitriani melayani pesanan hingga 160 kilogram setiap bulannya.

Baca Juga: Bidik Pasar Global, NTB Perlu Perkuat Identitas UMKM

Pemasaran secara digital melalui media sosial terbukti efektif menjangkau konsumen di luar NTB, seperti Purworejo, Malang, hingga Tangerang.

Bahkan, popularitas ikan bage buatannya sampai ke telinga para pekerja migran. Di antaranya, Hongkong yang dikirim melalui Bali dengan biaya ekspedisi Rp 80 ribu per kilogram.

Kemudian Malaysia dan Singapura, pengiriman melalui Jawa dengan biaya Rp 70 ribu per kilogram. Setiap bulan, ia rutin mengirimkan stok masing-masing 10 kilogram ke negara-negara tersebut dengan waktu tempuh maksimal 9 hari.

Ikan bage miliknya bisa bertahan hingga 3 pekan jika dikeringkan maksimal selama 3-4 hari di bawah terik matahari. Jika disimpan dalam freezer, produk ini bahkan tetap layak konsumsi hingga 3 bulan. "Untuk pengiriman ke luar daerah atau luar negeri, kami selalu menyarankan konsumen untuk memilih produk yang kering maksimal agar kualitasnya tetap terjaga," terangnya.

Sadar akan potensi pasar yang kian luas, Fitriani mulai melengkapi legalitas usahanya. Mulai dari NIB, NPWP, PIRT, HAKI, izin BPOM hingga Sertifikasi Halal. Fitriani mengaku mendapatkan lonjakan omzet berkisar 30 hingga 80 persen setelah bergabung dengan program Bale Berdaya, binaan AMAN Mineral dan KUMPUL.

Selain legalitas, ia mendapatkan pelatihan mendalam mengenai strategi branding, analisis pasar, manajemen keuangan, hingga Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi.

"Program Bale Berdaya sangat mendukung pertumbuhan ekonomi di Sumbawa melalui pemberdayaan UMKM yang adaptif. Kami yakin langkah ini membawa usaha kami semakin maju dan berdaya saing," pungkasnya. (fer/r6)

Editor : Redaksi
#program bale berdaya #UMKM #Ekonomi #Sumbawa #Pemberdayaan