Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nyalakok Tenun, Jaga Warisan Leluhur melalui Pewarnaan Alami

Geumerie Ayu • Rabu, 13 Mei 2026 | 11:11 WIB
KENALKAN PRODUK: Pemilik Nyalakok Tenun Indah Rahmawati (kiri) memperkenalkan salah satu motif tenun kepada calon pembeli, beberapa waktu lalu. (Istimewa)
KENALKAN PRODUK: Pemilik Nyalakok Tenun Indah Rahmawati (kiri) memperkenalkan salah satu motif tenun kepada calon pembeli, beberapa waktu lalu. (Istimewa)

LombokPost – Di tengah gempuran tekstil modern, Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, tetap konsisten menjaga marwah budaya melalui kain tenun.

Salah satunya, Nyalakok Tenun, produsen lokal tenun ikat di kawasan tersebut.

Nyalakok Tenun menjadi sorotan berkat komitmennya memproduksi tenun ikat berkualitas tinggi. Namun mempertahankan motif legendaris dan teknik pewarnaan alami.

Keunikan produk Nyalakok Tenun tidak hanya terletak pada keindahan visualnya. Filosofi mendalam yang terkandung di setiap helai benang yang ditenun secara tradisional menarik perhatian.

Baca Juga: Gubernur Iqbal Ajak Pengusaha Muda NTB Kelola Investasi Daerah

Nyalakok Tenun telah memproduksi ratusan motif yang sebagian besar merupakan warisan turun-temurun warga Desa Kembang Kerang.

Salah satu yang paling ikonik adalah Motif Ombak. Motif ini bukan sekadar hiasan, melainkan gambaran topografi Pulau Lombok yang dikelilingi pantai eksotis di setiap kabupatennya.

Selain itu, terdapat Motif Tekad yang diyakini sebagai motif tertua yang dikembangkan oleh masyarakat setempat.

Berbeda dengan kain modern, Motif Tekad asli dibuat menggunakan benang yang berasal dari kapas alami, memberikan tekstur dan nilai historis yang lebih kuat.

Baca Juga: PLN EPI Dampingi 45 UMKM Mataram Sulap Sampah Pantai Menjadi Sumber Cuan

"Kain tenun kami sangat fleksibel, bisa digunakan sebagai bahan baju, sarung, hingga pakaian adat untuk acara-acara formal maupun sakral," ujar pemilik sekaligus penggerak Nyalakok Tenun Indah Rahmawati.

Salah satu keunggulan kompetitif Nyalakok Tenun di pasar ekonomi kreatif adalah penggunaan pewarna alami.

Di halaman rumah yang menjadi pusat produksi, para perajin mengolah bahan-bahan alam untuk mewarnai benang.

Untuk menghasilkan warna-warna khas, seperti warna kuning kecokelatan yang hangat, Nyalakok Tenun menggunakan bagian dalam batang pohon nangka.

Baca Juga: Insentif PPN Tiket Pesawat Berlanjut Hingga Juni 2026

Ada pula proses pewarnaan yang mengarah ke warna indigo (biru) yang elegan. Penggunaan bahan alami ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga warna yang lebih awet dan eksklusif.

"Prosesnya dimulai dari pewarnaan benang, kemudian ditenun dengan teknik perpaduan antara lungsi (benang sejajar) dan pakan (benang memanjang) hingga menjadi lembaran kain yang siap dijahit," jelas Indah.

Indah menambahkan, permintaan pasar sangat tinggi ketika menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri. Produk sarung tenun ikat menjadi primadona bagi konsumen yang mencari keunikan untuk busana hari raya.

Dukungan terhadap produk lokal dengan pewarna alami ini diharapkan dapat terus meningkatkan kesejahteraan perajin di Desa Kembang Kerang. Sekaligus melestarikan kekayaan intelektual budaya NTB.

Baca Juga: Kemenkop RI Dorong NTB Jadi Model Nasional Tata Kelola Minerba  

Editor : Kimda Farida
#Nyalakok Tenun #pewarnaan alami #kain tenun #tenun #Lombok Timur