LombokPost – Analisis kritis terhadap pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2026 yang dilakukan oleh Ferry Irwandi masuk ke babak baru. Setelah memaparkan model akuntansi dasar, mantan pegawai Kementerian Keuangan ini menggunakan model ekonometrika yang lebih mendalam untuk mengukur dampak tidak langsung atau multiplier effect (efek domino) dari belanja jumbo pemerintah.
Multiplier effect merupakan konsep di mana setiap uang yang digelontorkan pemerintah akan merangsang peningkatan konsumsi masyarakat (C) dan investasi (I). Menurut Ferry, jika efek berantai dari belanja pemerintah yang melonjak 21,81 persen itu ikut dihilangkan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan merosot jauh lebih rendah lagi.
"Oke, itu counterfactual model akuntansi. Sekarang kita masuk lebih dalam lagi, model ekonometrika. Dan angkanya bisa lebih kecil lagi. Kita bikin indirect effect-nya, kita pakai regresi historis, multiplier effect-nya tambah dari C dan I gitu ya. Kalau multiplier effect-nya 0,2, berarti kan 0,93, 83 kali 0,2, berarti 0,197," jelas Ferry saat menguraikan rumusnya.
Melalui simulasi ekonometrika tersebut, Ferry memasukkan beberapa skenario nilai indeks multiplier tambahan. Hasil perhitungan menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi jatuh ke kisaran 4,43 persen hingga menembus angka psikologis terendah di 4,23 persen.
"Kita hitung masukin ke persamaan growth barunya, 5,61 dikurang 0,983 dikurang 0,197. Kita akan mendapatkan angka 4,43 persen. Lebih tidak kalau multiplier tambahannya 0,3, maka kita akan dapat angka 4,33 persen. Kalau 0,4, kita akan mendapatkan angka 4,23 persen," urai Ferry di depan layar tabletnya.
Ferry kemudian merangkum kedua perbandingan model sains ekonomi tersebut untuk menunjukkan kepada publik bahwa klaim ekonomi Indonesia dalam kondisi meroket adalah tidak sepenuhnya akurat. Angka-angka tersebut secara objektif membantah klaim sepihak dari Menteri Keuangan Purbaya.
"Jadi kalau kita rangkum, dengan model accounting counterfactual kita mendapatkan angka 4,63 persen. Dengan model ekonomi counterfactual, 4,43 persen, 4,33 persen, dan 4,23 persen," cetus Ferry memaparkan hasil kesimpulannya.
Di akhir penjelasannya mengenai ekonometrika, Ferry menantang balik Menteri Keuangan Purbaya beserta jajaran Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengoreksi perhitungannya jika terdapat kesalahan matematis, karena ia menjamin angka pertumbuhan 5 persen tidak akan pernah tercapai tanpa sokongan belanja negara.
"Dari semua matematika yang sudah saya jabarkan, ya kalau memang ada yang salah, mohon dikoreksi, karena saya jamin ketika government spending-nya Bapak bilang tidak pengaruhi itu, ada di angka di bawah 10%, maka pertumbuhan ekonomi 5% itu tidak akan tercapai sesuai dengan klaim Bapak," pungkas Ferry dengan nada optimis.
Baca Juga: Bisa Bikin Investor Kabur dan Rupiah Hancur, Ferry Irwandi Desak Menkeu Purbaya Stop Kosmetik Data
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin