LombokPost – Tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dapat menjadi pisau bermata dua bagi perekonomian nasional dan daerah.
Misalnya, di sektor industri pelesiran, kondisi ini diproyeksikan menjadi stimulus positif dalam menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Ketua Astindo NTB Sahlan M Saleh menegaskan, pihaknya tidak ingin bersikap pasif dan sekadar memanfaatkan momentum fluktuasi mata uang.
Baca Juga: PNM dan BRI Life Perkuat Literasi Keuangan Nasabah Mekaar di Mataram
Pihaknya berkomitmen untuk tetap menggenjot promosi secara agresif dan konsisten. Terlepas dari dinamika naik-turunnya kondisi finansial global.
Menurut Sahlan, melemahnya kurs Rupiah tidak boleh serta-merta diterjemahkan sebagai keuntungan mutlak bagi pariwisata daerah.
Sebab, fenomena tersebut pada dasarnya merupakan indikator adanya guncangan makroekonomi yang juga berdampak pada stabilitas dalam negeri.
Baca Juga: Polisi Bekuk Dua Pencuri Mobil dan 1.420 Liter BBM di Dompu, Satu Buron
“Melemahnya Rupiah juga menandakan ekonomi global sedang tidak stabil. Tetapi bagi kami di BPPD, ada atau tidaknya pelemahan ekonomi, promosi wisata tetap menjadi komitmen wajib,” jelas Sahlan.
Kendati demikian, Sahlan tidak menampik keperkasaan mata uang asing secara tidak langsung membuat paket wisata ke Indonesia menjadi relatif jauh lebih murah. Kondisi finansial ini menjadi modal kuat dalam menyusun strategi pemasaran.
Terutama dalam menawarkan durasi tinggal yang lebih lama bagi para turis asing dengan alokasi anggaran yang sama.
Baca Juga: Smartwatch Garmin Instinct 3, Desain Maskulin dan Baterai Monster Standar Militer
“Dengan konversi nilai tukar saat ini otomatis bisa bertambah harinya, misalnya tiga menjadi empat hari atau bahkan lebih,” sambung ketua BPPD NTB ini.
Lebih lanjut kata Sahlan, pihaknya juga berpartisipasi aktif dalam ajang bursa pariwisata internasional bergengsi. Salah satunya, Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 27-31 Mei 2026 mendatang di Bali.
Pihaknya juga melakukan aksi jemput bola dengan mengundang langsung pelaku bisnis pariwisata luar negeri ke Lombok melalui skema Familiarization Trip (Fam Trip), 1–2 Juni 2026.
“Kami mengundang para buyer (agen travel/operator) dari seluruh dunia untuk melihat langsung potensi eksotis wisata Lombok. Mereka akan kami inapkan langsung di kawasan Senggigi dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai bagian dari pengenalan destinasi premium kami,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa